Merdeka Ala Ibu Rumah Tangga

[Ikedianpuspita.com] Mumpung masih di suasana bulan Agustus, topik kemerdekaan tentu adalah topik trending yang paling banyak dibahas orang. Heeem…mungkin boleh dibilang saya telat kalo mau ngebahas soal tema merdeka di penghujung bulan Agustus. Sudah telat. Bu! Hahahaa..

Tapi gak papa ya (hehe..ngomong sama diri sendiri), toh bulan Agustus belum berlalu. Jika berlalu pun, tema merdeka ini tema yang evergreen, alias tema yang bisa dibahas kapan saja especially saat peringatan independent  day.

Sekian tahun berlalu, perayaan kemerdekaan tetap indentik dengan lomba-lomba perayaan tujuhbelasan. Hanya tahun ini yang benar-benar terasa beda karena harus tetap di rumah dan menjaga jarak akibat pandemik yang masih berlangsung.

Di RT saya mah lomba tujuhbelasan sudah ditiadakan. Demi keamanan dan kenyamanan bersama serta stabilitas nasional agar tetap terjaga. Beeuh..hehe.

Ya gitu deh. Semua dilalui dengan rangkaian acara virtual melalui media massa dan media sosial.

Oke, saya gak mau bahas gimana suasana tujuhbelasan di tempat saya. Ya, pasti gak akan jauh beda dengan daerah lain kan ya, terutama di masa pandemik ini.

Saya cuma mau nulis beberapa poin pengalaman selama bulan-bulan sebelum bulan kemerdekaan ini.

Menjadi Ibu Rumah Tangga yang Merdeka

Disini maksud saya adalah kondisi dimana, saya sebagai ibu rumah tangga bisa merdeka dari belenggu. Belenggu dari management waktu yang berantakan, karena menyelesaikan pekerjaan rumah harian itu ternyata dan emang iya cukup menguras energi. Belum lagi kewajiban harus mengasuh anak dan mengurus belanjaan.

Sepertinya sepele sih ya, hehe. Tapi tahu enggak kenapa pekerjaan rumah dan mengasuh anak itu begitu menguras energi? Setelah saya renung-renungkan, di setiap pekerjaan rumah dan mengasuh anak itu bukan soal sekedar menyelesaikan pekerjaan, tapi juga bagaimana kita meletakkan cinta disana. Berdialog dan memberikan diri kita seutuhnya saat mengasuh anak-anak.

Kita enggak bisa setengah-setengah perhatiannya ketika anak ngajak ngobrol atau minta ini minta itu. Bisa-bisa salah persepsi dan hanya menimbulkan luka batin di masing-masing pihak.

Itu butuh energi, sayangku. Energi positif yang mampu membuat kita menjadi matahari bagi keluarga kita. Nah, padahal energi saya itu selalu naik turun gunung, muter-muter gak jelas kalau lagi capek. Bahkan kadang seharian bisa jadi ndelosor… (tiarap) hahahaa.. hadeeeh.

Yaaah, saya masih berlajar banyak dan berjuang untuk menyeimbangkan hal itu.

Merdeka Belajar, Belajar Merdeka

Semenjak menjadi ibu, saya harus siap menjadi manusia pembelajar terus menerus. Karena, tidak ada yang baku dalam parenting. Mengikuti perkembangan jaman dan perkembangan anak-anak, membuat saya perlu untuk terus mengupdate dan mengupgrade diri sendiri.

Kan saya sudah pernah ngerasain dulu jaman jadi anak-anak dan orang muda. Sudah ngerasain gimana jurang perbedaan antara generasi orangtua jaman dulu dengan generasi saya hahahaa..

Kalau saya gak siap untuk membuka diri dan pikiran belajar hal-hal baru, mungkin pola pengasuhan saya akan sama dengan pola pengasuhan orangtua jaman dulu ya, yang kata anak-anak jaman saya dibilang kolot. Bisa jadi saya juga akan jadi orangtua yang kolot.

Jadi, hayuk deh..saya mah oke-oke aja belajar hal-hal baru sepanjang itu memberikan manfaat positif. Demi siapa kalau bukan demi anak-anak, ya kan? Saya ingin menjadi sahabat mereka juga sampai mereka dewasa nanti.

Kesimpulan

Kemerdekaan selalu memunculkan ide-ide baru untuk terus mengembangkan diri. Karena merdeka berarti bebas dari belenggu. Belenggu yang selalu membatasi diri kita untuk berkembang.

Heeem..harapan saya ke depan sih tentunya semoga hari esok selalu menjadi lebih baik dari hari ini. Dan hari kemarin menjadi pelajaran yang berharga untuk kita hari ini.

Terima kasih sudah membaca tulisan saya hari ini ya. Yang mau komen, silakan tinggalkan jejak di kolom komentar. Semoga bisa menghibur kalian semua, syukur-syukur bisa bermanfaat juga.

Merdeka Belajar, Belajar dengan Merdeka…

by Ike Dian Puspita

Situasi pandemi corona menjadi momen pijakan penting bagi kami sekeluarga untuk memulai hidup dan belajar dengan merdeka. Belajar bukan lagi sekedar dilihat sebagai usaha untuk memasukkan pengetahuan tapi kegiatan yang harus bisa mengeluarkan potensi dari individu-individu pembelajar.

Proses yang selama ini mungkin tidak pernah saya lakukan dan alami. Karena selama 17 tahun saya mengenyam pendidikan formal, proses yang saya jalani adalah mengkonsumsi pengetahuan yang diberikan, bukan aktif memproduksi dan memproses pengetahuan.

Dampak yang saya rasakan sampai sekarang adalah terperangkapnya diri saya, terutama mindset, pada situasi yang menempatkan diri saya sebagai obyek penderita. Memposisikan diri saya sebagai pihak yang pasif menerima. Tanpa tahu dan sadar perlu ada ruang buat saya memproses apa yang sudah saya dapatkan. Sehingga bisa benar-benar tepat sasaran dan tepat guna bagi kehidupan saya.

Merasa salah jurusan ketika kuliah, merasa tidak berdaya di pelajaran tertentu dan merasa tertekan harus mendapatkan nilai yang tinggi merupakan perasaan-perasaan yang akrab selama 17 tahun sekolah. Seolah kendali ada di luar diri saya. Jika saya tidak bisa memenuhi standar parameter yang telah ditetapkan, maka saya akan merasa gagal dan “mati”.

Namun demikian, saya sangat bersyukur sekarang. Semua pengalaman itu bisa menjadi modal dasar saya dalam menemukan oase yang sesungguhnya. Walau panjang dan berliku jalannya.

Bersama anak-anak saya dan suami, saya bersuka cita meleburkan diri dalam semangat baru ini. Semangat untuk Merdeka Belajar dan Belajar dengan Merdeka… Perjalanan jatuh bangun yang membawa harapan bagi anak-anak saya, generasi yang akan mendiami dunia baru yang bukan dunia saya. Yang setidaknya membuat saya mampu menatap mereka dengan sedikit kebanggaan diri.

Semua saya simpan dan tuliskan di blog www.merdekabelajarike.wordpress.com

Semoga menjadi celah..

Semoga menjadi suluh..