Mindfulness · Wellness

Jebakan Self Love

Sebuah Otokritik

Hari-hari terakhir ini, saya merenungi beberapa hal tentang kata self love.

Self love diartikan sebagai ungkapan cinta pada diri sendiri. Di tengah situasi dunia yang makin lama makin penuh distraksi, pencarian terhadap ketenangan batin, perenungan yang dalam terhadap hidup menjadi hal yang susah-susah gampang. Proses penilaian-penilaian kita pun makin dipengaruhi oleh opini-opini di luar diri yang seringkali belum tentu selaras dengan kepribadian kita.

Riilnya begini deh, beberapa waktu lalu, saya banyak nonton tayangan youtube tentang bagaimana menguruskan badan dalam waktu cepat. Dari sekian tayangan itu, ada satu yang menggelitik pemahaman saya. Untuk orang-orang seperti saya yang pernah berkutat dengan berat badan berlebih, tubuh melar dan mekar setelah melahirkan, mendapat sindiran-sindiran enggak enak soal bentuk tubuh (body shamming), seringkali menggunakan tameng self love untuk sekedar menghibur diri atau pembenaran pribadi.

“Ah, biarin aku gemuk, yang penting sehat.”

“Kan, ini (perut) juga untuk wadah tiga anak. Jadi wajar dong, kalau melar.”

“Ah, sudah jadi ibu-ibu ini juga, memang sudah waktunya badan melar.”

Heeem …, kalimat-kalimat itu dulu sering banget saya lontarkan. Kalau mau jujur nih, iya emang benar, saya menghibur diri saya sendiri supaya enggak terlalu terluka dengan komentar-komentar yang datang bertubi-tubi dan bahkan sering banget enggak bisa ditolak dan ditahan karena kebanyakan mereka justru adalah teman-teman kita sendiri.

Saya menenangkan diri, dengan membenarkan bahwa sikap saya itu adalah bentuk self love.

Oh, really??

Saya mulai berpikir dan bertanya pada diri sendiri, apakah saya benar-benar mencintai diri saya? Terutama dalam hal ini dengan tubuh saya sendiri. Sebagai bentuk cinta, apakah saya benar-benar sudah memberikan tubuh saya makanan terbaik? Yang lebih alami dan sehat, bukannya makanan olahan? Apakah saya sudah memperhatikan pola hidup saya, porsi tidur, dan olahraga?

Waitwait, sepertinya kok belum ya?

Itu baru pertanyaan yang terkait dengan tubuh. Belum pertanyaan-pertanyaan kritis lain yang terkait dengan mental health, mind and soul. Oh, God … ternyata masih banyak banget pe-er nya.

Jadi nih … saya bersyukur banget dapat insight yang berharga seperti ini. Pembelajaran hidup yang belum tentu ketemu tiap hari. Dan mulai sekarang, aku ingin menjadi lebih baik dari sebelumnya. Mulai ubah mindset. Mulai banyak belajar bagaimana menjadi lebih sehat dan bugar, bukan lagi menjadi kurus. Mulai belajar menjadi bahagia untuk diri sendiri agar saya bisa memberi bahagia juga ke orang lain. Ya, saya mau menjadi lebih baik lagi dari sebelum-sebelumnya. Lebih sehat, lebih bugar, lebih bermanfaat untuk orang lain dan semesta.

Tubuh ini hanyalah kendaraan yang dipinjamkan supaya kita bisa menikmati hidup dan berbuat banyak hal baik di dunia, tapi kalau tidak dijaga, kita tidak akan pernah sampai ke mana-mana. Bahkan untuk kebaikan diri sendiri, mungkin akan terlambat.

Salam.

Writing Journal

Gembiralah Saat Menulis

Beberapa teman di komunitas menulis seringkali mengungkapkan kalimat seperti ini, “Gembiralah saat menulis”, atau “Menulislah dengan gembira”. Sekilas pesan yang tersirat sangatlah positif, yakni mengajak kita untuk bisa menulis dengan perasaan gembira. Bisa jadi juga memiliki makna supaya kita menulis dalam suasana hati yang gembira. Terus kalau suasana hati lagi sedih gimana dong? kalau lagi bete, sebel, marah, pengen garuk tembok, apa masih boleh menulis?

(dok.pri)

Menurut aku sih, menulis itu memang terasa lebih lancar saat emosi sedang bergejolak, baik emosi sedih maupun gembira. Dalam kondisi seperti itu biasanya dorongan untuk menumpahkan seluruh pikiran dan perasaan terasa lebih kuat. Betul enggak? Tapi, tidak berarti kita harus menunggu berada dalam kondisi emosi tertentu supaya bisa menulis, kan. Mungkin lebih tepatnya, menulis itu sebaiknya dilakukan dalam kondisi suasana dan emosi yang baik. Baik dalam arti kita masih dalam kondisi terkendali dan mampu mengelola pikiran dan perasaan yang baik.

Itulah mengapa banyak mereka-mereka yang sudah lebih banyak punya pengalaman malang melintang di dunia tulis menulis lebih cenderung menyarankan kita untuk menulis dalam kondisi emosi yang baik dan terkendali.

Lebih dari pada itu, kata gembira di sini aku artikan sebagai ‘passion’. Ya, menulis itu harus dilakukan dengan senang, bebas dari segala ekspektasi dan penilaian-penilaian yang bisa membatasi proses kreatif kita. Percayalah dengan penilaian dan pemikiran diri sendiri sebelum tulisan itu dipentaskan dan dinilai oleh orang lain. Yakin deh, tulisan kamu pasti akan lebih ekspresif dan menyentuh hati pembaca.

Gimana? Boleh lho dicoba. Aku juga masih terus menerus melatih diri untuk bisa menulis dengan baik. Selamat menulis!

Writing Journal

Curhatan Penulis Antologi

Sebenarnya saya tidak terlalu yakin menyebut diri sebagai penulis. Saya hanya ibu rumah tangga yang menemukan keasyikkan tersendiri di dunia tulis menulis. Tidak ada target tertentu yang ingin diraih atau ingin dibuktikan. Awalnya justru saya lebih sering ikutan kelas online untuk pelatihan-pelatihan bisnis networking yang ternyata lebih banyak latihan pengembangan dirinya dibandingkan bisnis itu sendiri. Lama-lama saya malah tercebur lebih dalam untuk belajar skill menulis dan pengembangan diri dibandingkan belajar bisnisnya.

Ya, begitulah dunia ini bekerja. Kadang-kadang sulit untuk ditebak arah dan ujungnya. Singkat cerita, awalnya saya menemukan kelas belajar menulis khusus untuk perempuan di Sekolah Perempuan. Dengan niat banting setir jadi penulis saja daripada jadi enterpreneur, karena saya itu merasa paling enggak bisa disuruh jualan. Paling enggak nyaman menawar-nawarkan sesuatu pada orang yang belum dikenal. Sama teman sendiri aja kadang masih sering kagok apalagi sama orang yang enggak kenal sama sekali. Atau ya mungkin pembawaan sifat dasar saya yang introver membuat saya lebih nyaman di dalam dunia yang saya buat sendiri. Gitu ceritanya, dan cerita saya pun terus berlanjut pada kelas-kelas kepenulisan yang lainnya.

Semua kelas kepenulisan tentu punya tujuan akhir agar peserta pelatihannya bisa langsung memiliki pengalaman menghasilkan karya tulisnya sendiri. Maka di setiap awal sesi kelas penulisan para peserta pasti diminta menuliskan niat mereka untuk menghasilkan paling tidak satu buku setelah kelas pelatihan selesai dilaksanakan. Begitu juga saya. Saya menuliskan niat untuk bisa menghasilkan setidaknya 1 buku setelah selesai mengikuti pelatihan.

Namun, kenyataan di lapangan selalu berbeda dengan harapan bukan? hehe… Ternyata setelah lima tahun berlalu, belum satu pun buku solo berhasil saya lahirkan, hadeeeh. Justru yang sudah banyak saya telurkan adalah artikel-artikel (pentigraf) yang tercatat dalam banyak buku-buku antologi. Termasuk buku antologi puisi. Saya sudah menghasilkan 11 buku antologi, menuju 12 buku antologi.

Apakah ini prestasi?

Heeem…, tergantung bagaimana meresponnya, hihihi. Dibandingkan dengan mereka-mereka yang belum punya karya yang diterbitkan, jelas ini prestasi buat saya. Dari sisi kuantitas juga boleh lah diadu. Tapi buat mereka-mereka (tak terkecuali saya sendiri pun) yang menganggap buku solo dilihat lebih sebagai pencapaian dibandingkan buku antologi, tentu saya sama sekali bukan apa-apanya, ya kan?

So, sekarang bergantung saya mau melihatnya sebagai apa dan bagaimana.

Yang pertama, diantara jarak keberhasilan dan kegagalan versi orang lain, saya memaknai pengalaman saya menulis dalam antologi adalah sebuah PERJALANAN. Mungkin jawaban yang cukup klise. Saya hanya ingin menggaris-bawahi bahwa semua yang pernah saya lakukan dalam proses menulis adalah perjalanan yang masih akan terus dan terus saya lakukan. Sampai kapan? Mungkin sampai saya tua, hehe. Sampai saya tidak bisa produktif lagi. Entahlah.

Karena ini sebuah perjalanan, maka di setiap perhentian saya, (baca buku antologi) saya anggap sebagai sebuah pencapaian. Jika saya melihat kembali tulisan-tulisan saya sejak buku antologi pertama, terlihat sekali proses perkembangan yang terjadi pada cara dan gaya saya menulis. Mulai dari tulisan yang polos banget, tanpa polesan teknik apa-apa, sampai akhirnya mulai bisa bermain kata, memilih diksi yang tepat, bermain logika, bahkan menggunakan sedikit teknik sederhana dalam penulisan. Semua tampak jelas dalam tulisan saya di antologi-antologi itu. Dan saya tidak perlu malu dengan hal itu bukan? Kenapa harus malu? Justru hal ini bisa menjadi pembelajaran yang sangat berharga buat perkembangan saya pribadi.

Yang Kedua, menulis antologi adalah sebuah LATIHAN. Impian saya untuk bisa menerbitkan karya solo tetaplah yang utama. Anggap saja itu adalah puncak gunung yang ingin saya taklukkan berikutnya. Setelah berhasil menakhlukkan puncak-puncak bukit sebelumnya sebagai latihan menuju puncak gunung yang sebenarnya. Tanpa bermaksud mengecilkan usaha-usaha yang pernah saya lakukan. Maka, sudah saatnya saya benar-benar meyakinkan diri untuk menyelesaikan latihan dan beranjak pada kompetensi berikutnya. Saya lah yang menentukan, saya lah yang meyakinkan diri saya sendiri untuk melangkah lebih jauh lagi dan lebih tinggi lagi.

Hingga di akhir setiap perjalanan, saya justru bisa menjadi sangat bersyukur pernah terlibat dalam banyak karya antologi. Setidaknya sebagai sebuah proses yang mampu menguatkan otot menulis saya selama ini. Bonusnya adalah pembelajaran hidup yang mungkin tidak akan pernah saya temui jika saya hanya menjalani peran ibu rumah tangga tanpa menulis. Lalu, bagaimana dengan menulis karya solo? Itu menjadi cerita lain yang akan saya tuliskan kemudian, hehe.

Oke, terima kasih sudah meluangkan waktu untuk membaca curhatan ini ya. Semoga harimu menyenangkan.

Love from me, always.

Writing Journal

Belajar dari Tulisanmu

[ikedianpuspita.com] Simpan semua tulisan yang pernah kamu tulis di media sosial, kecuali kamu merasa benar-benar sudah tidak menganggap tulisanmu itu penting; atau kecuali kamu adalah seorang kuli berita, jurnalis media cetak, online, televisi, etc. yang masih dengan mudah bisa melacak hasil karya tulismu di media.

Menyimpan tulisan sendiri mulai dari tulisan pertama yang kamu buat sampai tulisan yang sekarang akan memudahkanmu untuk belajar dari tulisanmu sebelumnya. Bisa dari sisi pola pikir, keterampilan mengolah kata, gaya bertutur dalam tulisan, hingga perkembangan mental dan keperibadianmu sendiri. Ini salah satu cara untuk meningkatkan skill menulismu, selain belajar dari tulisan orang lain.

Seringkali kita lebih bersemangat mempelajari tulisan dan karya orang lain dibandingkan karya kita sendiri. Alih-alih ingin menimba ilmu menulis yang menurut kita lebih baik dari milik kita sendiri, justru kita terjebak untuk meniru gaya orang lain. Alih-alih masih belajar katanya, jangan-jangan kita tidak terlalu percaya pada kemampuan diri sendiri mengembangkan keterampilan menulis yang sebenarnya sudah cukup dimiliki untuk bisa memulai sebuah karya.

Saya tidak bermaksud bahwa belajar dari orang lain itu tidak baik loh ya. Pada kadar tertentu, kita perlu memberi ruang pada diri kita untuk bisa mempercayai kemampuan yang sudah kita miliki. Yakni, kemampuan dari hasil belajar sebelumnya dan mempercayai diri ini bahwa kita mampu mengembangkannya dengan lebih baik lagi.

Makanya, kadang-kadang saya menyesal pernah menghapus banyak tulisan-tulisan saya di blog lama. Dengan alasan bahwa tulisan saya itu tidak cukup bagus untuk disimpan. Terlalu lugu dan polos tata bahasanya, isinya, cara penyampaiannya dan segala macamnya.

Oke, mungkin itu memang benar, ya kan. Maklumlah karena memang baru penulis pemula. Semua yang expert di bidangnya pastilah pernah menjadi pemula. Semua yang sukses sebenarnya pernah jadi orang yang belum sukses. Pun penulis novel terkenal dulunya juga pernah menjadi penulis amatiran yang sama sekali belum tahu dunia tulis menulis.

Cobalah melihat dari sudut pandang yang berbeda, bahwa tidak semua yang baik itu harus datang dari luar diri. Jangan lupakan bahwa kita bisa menemukan mutiara sama indahnya di dalam diri kita seperti kita menemukan mutiara itu di karya orang lain.

Belajar mengenakkan tulisan itu butuh 1000 an jam terbang. Bukan sekedar mempraktekkan teknik menulis namun juga bagaimana mengolah rasa dalam sebuah tulisan. Sehingga tulisan itu menjadi tulisan yang seolah bisa berbicara dengan hati dan pikirannya. Duh, yang ini agak susah jelasinnya, hehe… Ya, gitu deh. Saya pun masih harus banyak berproses untuk sampai kesana.

So, jangan hapus tulisan-tulisan lamamu. Dia adalah bagian dari perjalananmu hingga sampai di titik ini. Terimalah, perhatikanlah, dan pelajarilah. Mungkin kamu akan menemukan mutiara yang lebih indah dan lebih unik di dalamnya. Berbeda dari mutiara yang dimiliki kebanyakan orang. Karena kita dikaruniai keunikan masing-masing.

Ini berlaku juga buat diri saya pribadi. Minimal menjadi cermin buat saya untuk tidak mengabaikan sesuatu yang sebenarnya sangat dekat, yakni diri saya sendiri.

Buang rasa malu dan khawatir untuk dikritik dan dinilai orang lain, karena kamulah yang lebih tahu tentang dirimu sendiri.

Semoga bisa menjadi reminder bersama.

Salam hangat selalu dari Klaten.

Writing Journal

Menemukan Ritme Menulis

[ikedianpuspita.com] Jangan dikira jadi penulis itu enak. Jangan cuma dilihat pas sudah sukses menelurkan sebuah karya. Itu hanya puncuk gunung esnya saja.

Dibawah itu ada banyak sekali usaha, tenaga dan pikiran yang dicurahkan sampai sebuah buku terwujud.

Pengalaman menulis buku solo bagi saya sangat menantang sekali. Beda dengan ketika mencoba-coba menulis naskah buku bareng-bareng seperti buku antologi. Di proyek buku antologi, saya hanya bertugas untuk menyelesaikan satu tulisan saja. Sementara untuk menulis sebuah buku utuh karya sendiri. Saya mesti mulai menulis dari awal hingga akhir.

Dan itu memerlukan keteguhan dan komitmen supaya bisa selesai. Kalau mau dipaksakan sebenarnya bisa saja, selesai dalam jangka waktu yang relatif singkat. Tapi buat saya yang pemula ini, itu masih sulit sekali. Fokus untuk menulis masih saja terbagi-bagi dengan kepentingan yang lain.

Saya senang menulis. Namun tidak seperti mereka-mereka yang lebih rajin menulis. Saya senang menulis tapi tidak rajin menulis. Hehehe …, paradoks ya. Mungkin lebih tepatnya bukan tidak rajin menulis tapi tidak rutin menulis. Nah, itu ….

Saya tipe yang kalau diberi tekanan malah makin amburadul. Tapi bukan berarti saya tidak bisa bekerja di bawah tekanan. Bagi saya menulis itu seharusnya menjadi aktivitas yang menyenangkan. Tanpa tekanan apa pun.

Masalahnya adalah jika saya punya tujuan tertentu, sikap santai yang saya miliki ini menjadi bumerang yang bisa menghambat perkembangan diri saya sendiri.

Maka, saya perlu membangun satu sistem yang bisa membuat saya nyaman menulis namun tetap bisa mencapai tujuan yang saya inginkan secara mandiri.

Mengenali Ritme Menulis

Selama saya mengenali diri sendiri, ternyata saya termasuk orang pagi. Yang lebih fokus bekerja saat pagi hingga siang hari. Saya lebih suka bangun lebih pagi untuk menulis, atau siang hari saat anak-anak sibuk dengan jam bermain mereka sendiri. Itupun tidak bisa lama-lama. Paling lama hanya dua jam. Setelahnya saya mesti mengerjakan pekerjaan rumah tangga yang lain. Hal itu dilakukan berulang kali hingga menjadi kegiatan yang rutin yang kalau tidak mengerjakannya terasa ada yang kurang.

Bagaimana jika saya melewatkan sehari dua hari menulis? Saya berusaha menyadarinya, memaafkan diri ini, lalu mulai lagi dari awal. Jika masih terjadi lagi, maka saya akan mengulanginya lagi.

Akhir-akhir ini saya menggunakan bullet kalender untuk memantau perkembangan yang sudah saya capai. Intinya, jangan menyerah dan jangan membuat dirimu menderita dengan selalu merasa bersalah. Memaafkan diri sendiri membantu kita untuk lebih cepat move on dan fokus ke tujuan awal. Tidak ada orang lain yang bisa memaksamu selama kamu tidak mengijinkanya.

Ritme menulis yang terbentuk akan membantu saya dengan mudah masuk dan fokus pada naskah buku solo yang sedang saya kerjakan. Tanpa beban. Kalau sudah merasa tanpa beban, maka saya menjadi lebih mudah untuk melihat dan termotivasi mengejar tujuan utama yang ada di depan.

Ini versi saya. Bisa jadi akan berbeda dengan pengalaman teman-teman 🙂 Tidak masalah, enjoy saja. Selama memiliki tujuan yang sama meski berbeda jalur, lakukan saja. Sampai tujuan dan mimpimu terwujud.

Salam!

Writing Journal

Freewriting-in ajaah …

[ikedianpuspita.com] Mulai membuat tulisan itu sebenarnya enggak rumit-rumit amat. Kita bisa mulai dari topik apa pun yang kita suka. Tapi tetap saja ada orang-orang yang meragukan dirinya bisa menulis. Bahkan tidak percaya bahwa dirinya bisa menulis.

Ya menurut saya, ini sih hanya soal sudut pandang.

Bahkan, yang sudah pernah ikutan kelas-kelas online menulis, baik yang gratisan maupun yang berbayar, masih saja ada yang enggak pede memulai tulisannya sendiri. Heeem…salah satunya bisa jadi saya juga hahahaa..

dok.pri

Anyway, terima kasih pada penulis buku mas Anang YB, dari bukunya saya jadi lebih pede untuk menulis. Jurusnya sih simpel-simpel aja, yakni jurus FREEWRITING. Dan menurut saya, model penulisan free writing ini bagus banget buat penulis pemula maupun penulis yang “mejen” – penulis yang menulis tergantung dengan mood – penulis yang punya banyak gagasan tapi belum bisa mewujudkan tulisan sampai sekarang. (Hadeeehh…tipe yang kedua ini kenapa mirip banget sama saya yach… #tutupmuka).

Freewriting itu ya menulis bebas. Menulis apa pun yang kita pikirkan tanpa sensor, tanpa editing dalam satu waktu tertentu. Misalnya saja saya menulis bebas selama 15 menit pertama sebelum benar-benar melakukan analisis dan editing terhadap tulisan sendiri. Terus terang, style semacam ini sangat membantu saya lebih percaya diri dengan tulisan sendiri. Kuncinya rileks aja, enggak usah terlalu kenceng pikirannya, hehe…

Hasil tulisan dari style freewriting ini biasanya masih mentah. Masih perlu dimasak lagi agar lebih sedap dan nikmat dibaca. Makanya setelah melakukan freewriting jangan lupa untuk kembali memeriksa tulisanmu. Bagian mana yang perlu ditambah, bagian mana yang perlu dikurangi atau bahkan dihilangkan; dan bagian mana saja yang hanya perlu editing ringan. Dari situ, kamu pasti sudah mulai enjoy menulis.

Saat ide sedang bertengger di kepala, langsung saya ditulis, Jangan sampai hanya mengendap di angan-angan, ya kan?!

Kalau saya biasanya punya buku catatan tersendiri untuk mencatat ide yang tahu-tahu datang gak diundang. Jadi, suatu saat bisa dibuka kembali dan bisa menjadi salah satu inspirasi dalam menulis.

Gimana? Seru ya sepertinya nyoba gaya FREEWRITING 🙂 Coba deh!

ciaaoo…!

Writing Journal

Mood Menulis

[ikedianpuspita.com] Hari ini saya sedang termotivasi untuk menulis. Jadi saya menyelesaikan draft naskah buku solo saya sampai 2000 an karakter dan mencoba menulis sesuatu di blog ini.

Heemm… asal tahu saja, saya termasuk orang yang agak susah mengendalikan penundaan. Banyak sekali akun-akun media sosial saya yang tidak terawat dengan baik. Hanya karena banyak alasan untuk pembenaran atas rasa malas saya, hehe…

Anyway, cerita soal jatuh bangun pengalaman menulis, saya kira enggak ada tips baru yang cukup bisa memberi penjelasan bagaimana mengatasi kemalasan menulis. Kurang lebih semua tips ya gitu-gitu aja. Membuat jadwal menulis, tentukan hari dan waktu untuk menulis, siapkan tempat tersendiri untuk menulis, membangun kebiasaan menulis setiap hari bla bla bla … Dan sebagian besar sudah saya praktekkan satu per satu. Berhasil? Buat saya itu belum ngefek banget (capek deh.. #tutup muka)

Ya, enggak gampang sih mengenali dan menemukan gaya yang kita mau banget. Rutinitas yang membuat kita nyaman dan enjoy dalam menulis. Bahkan bertahun-tahun saya baru bisa mencapainya sedikit demi sedikit.

Pertama, Temukan Tujuan

Nah, persoalannya, untuk bisa sampai kesitu, sampai menemukan gaya yang nyaman dan kita mau dalam melakukan aktivitas menulis; saya melalui jalan yang cukup panjang dan berliku. Berbagai kelas online saya ikuti, hanya demi “menyembuhkan” sikap penundaan saya yang pol polan. Mencari apa yang menyebabkan saya tidak bisa produktif seperti ibu-ibu rumah tangga yang lain.

Nah, kan…saya mulai merasa terintimidasi hahahaa…

Etapiii…enggak papa. Diambil positifnya saja. Kalau saya tidak merasa terintimidasi, mungkin saya tidak akan bertualang mencari jawaban-jawaban atas keresahan saya tersebut.

Dari beberapa kelas pengembangan diri yang saya ikuti, semua sepakat bahwa pertama kali yang perlu kita sadari dan perlu kita tentukan adalah menemukan tujuan akhir.

Apa tujuanmu menulis? Mengapa kamu pengen jadi penulis? Apa yang kamu bayangkan ketika kamu berhasil menjadi penulis profesional?

Tidak ada salah dan benar dalam setiap jawaban yang kamu pilih, karena ini adalah hidupmu. Kamu yang lebih tahu apa yang kamu inginkan. Apakah jawabannya ingin profesional atau sekedar having fun, itu adalah milikmu.

So, selanjutnya adalah menerima.

Menerima setiap tujuan akhir yang kamu pilih dengan sadar, tanpa menilai benar atau salah, baik dan buruk, karena itu relatif. Itu yang saya lakukan. Kalau sudah begini, saya merasa semua berada dalam kendali saya; bukan kendali orang lain maupun keadaan.

Saya memilih untuk bisa mengatur apa-apa saja yang berada dalam kendali dan memberi penghargaan serta cinta yang tulus untuk diri sendiri. Jadi, peduli amat apa kata orang; istilahnya gitu.

Ya sudah, dinikmati saja perjalanannya. Up and down jadi terasa penuh warna karena kita menggunakan sudut pandang yang lebih positif.

Dan yang terakhir, motivasinya adalah saya menulis untuk diri sendiri. Setidaknya, jika tidak ada orang yang menyukai tulisan saya, ya saya nulis buat diri sendiri saja. Itu sudah cukup.

Kesimpulan

Kesimpulannya, temukan gayamu sendiri saja. Temukan hal-hal yang membuatmu nyaman untuk aktivitas menulismu. Tidak perlu terintimidasi dengan perkembangan orang lain. Meski tentu saya paham banget, itu sifat yang sangat alami dan manusiawi. Kita hanya perlu mengendalikannya saja agar jangan sampai menghambat diri sendiri.

Gitu ya …

Salam hangat

Lain-lain

#Emak Pengen Kurus

Beneran deh… saya memang pengen kurus.

Sebelumnya saya sudah sempat kurus loh. Dari berat badan 65 kg ke 57 kg. Lumayan kan, Sempat bertahan selama beberapa bulan dengan berat badan segitu, bahkan pernah sampai 55 kg.

Senang banget lah rasanya bisa mencapai berat 50 an kilogram begitu. Prestasi sih buat saya hihihi…

Sejak melahirkan yang ketiga kalinya, perut ini rasanya kok susah balik ke ukuran semula. Malah sepertinya makin melar saja. Dengan kondisi badan yang semakin lebar dan perut membuncit, kepercayaan diri saya berangsur-angsur luntur. Duh, enggak pede pokoknya. Dan parahnya seringkali saya selalu mencari pembenaran-pembenaran alih-alih alasan hanya untuk berusaha menenangkan diri dari kepanikan akibat pertanyaan-pertanyaan dan pernyataan yang muncul di lingkaran pergaulan saya.

“Enggak papa gemuk, yang penting sehat”, begitu jawab saya.

“Enggak papa perut buncit, namanya juga sudah ibu-ibu, kan habis brojolin anak tiga. Wajar aja”, hehe…gitu deh kilah saya di lain waktu.

“Enggak papa lah gendut ini, sudah laku juga, hahahaa…” (tertawa kecut).

Duh, buat perempuan penampilan itu penting. Bukan sekedar ingin dipuji, tapi juga sebagai investasi penghargaan terhadap diri sendiri, ya meningkatkan self esteem lah.

Ternyata mempertahankan itu lebih besar tantangannya dibandingkan ketika kita sedang dalam fase memperjuangkan, ya kan?

Berhasil sampai di titik 57 kg, saya mulai berleha-leha. Mulai tidak ketat lagi menjaga pola makan dan pikiran. Terlalu memanjakan diri dengan kalimat, “Enggak papa… sekali-sekali… “. Duh, ternyata itu bahaya banget. Alhasil, berat badan saya kembali membengkak hingga 69 kg sekarang! OMG!

So, saya harus menguatkan diri untuk memulai lagi semuanya dari awal. Meski tidak akan terasa sama seperti sebelum-sebelumnya, karena sebagian informasi tentang memperolah tubuh ideal dan menjadi kurus sudah saya lahap habis. Tapi, saya yakin pasti masih ada yang terlewatkan oleh saya. Sehingga niat kurus saya enggak bertahan lama. Makanya, saya ingin memulainya lagi dari sini.

Catatan ini adalah pengingat bagi saya bahwa saya kepengen kurus lagi. Saya akan membuat catatan-catatan berhastag #emakpengenkurus lainnya supaya lebih mudah untuk ditelusuri jejak-jejak perjalanannya. Doakan saja, semoga saya bisa konsisten yah.

Terimakasih yang sudah mampir dan bersedia baca. Have a nice day 🙂

Lain-lain

AGENDA 2021

Aaah.. sudah 2021!

Waktunya untuk membuat planning dan agenda baru. Alih-alih resolusi, aku lebih suka pakai istilah new agenda. Ya, minimal ini akan jadi reminderku setahun ke depan, mengenai apa saja yang ingin aku capai di tahun 2021.

Penghasilan dari Adsense

Tahun ini pengen banget bisa merasakan dapat pemasukan dari blog adsense. Selama ini ngeblog hanya buat coba-coba. Tahun ini pengen naik level lagi dan lebih serius ngeblog. Untuk itu, diriku perlu kerja keras.. sangat sangat keras untuk bisa membangun blog ini dengan lebih baik lagi. Sampai saatnya nanti blog ini mendatangkan penghasilan dari Adsense.

Kuliah S2

Cita-cita kuliah S2 sebenarnya sudah lama aku impikan. Semoga tahun ini bisa terwujud.

Menyelesaikan PR

Meski sudah tahun baru, tapi ternyata aku masih punya PR-PR yang tetap harus diselesaikan. Baik tulisan maupun proyek-proyek dari tahun sebelumnya. Aku berharap diberi kekuatan dan ketangguhan yang gigih untuk bisa menyelesaikannya.

Doakan saya ya guyyss.. 🙂

Memperbaiki Diri

Apa pun keinginan dan impian di tahun 2021 ini, yang pertama dan paling utama adalah semoga aku bisa memperbaiki hal-hal yang belum bisa aku lakukan dengan baik. Terutama semoga aku bisa lebih banyak berbuat yang terbaik untuk orang-orang yang berada di lingkaran hidupku, berbuat lebih baik pada orang-orang di luar lingkaran hidupku dan memberikan dampak positif lebih luas lagi dan lagi.

Aku merasa sudah menerima banyak selama tahun-tahun sebelumnya. Maka di tahun ini aku akan berusaha memberikannya kembali (giving back). Semoga semua menjadi kebermanfaatan yang lebih bermakna.

Oke, Happy New Year 2021 🙂

Salam paling hangat buat kalian semua!

Mindfulness

#Day 3 : Just 15 Minutes!

[ikedianpuspita.com] Oke, postingan kali ini sedikit berat. Hehe.. Ya, soalnya ini terkait dengan rutinitas beberesan di dunia per-emak-an [duh, istilah apa lagi itu..]

Saya lagi nyoba teknik pomodoro yang 25 menitan itu. Tapi buat saya kok itu kelamaan yah hahaa.. Gak betahan saya orangnya. Lagian masih seabrek gawean lain menunggu.

Jadi, saya bikin 15 menitan aja. 15 menit untuk membersihkan, 15 menit untuk membereskan, 5 menit istirahat [gak nyampe deh kayaknya..] lanjut 15 menit lagi mengerjakan yang lain, seperti memasak. Ya yang simple-simpel aja. Pokoknya selalu berusaha menyelesaikan semuanya dalam 15 menit dan lanjut ke hal lain lagi.

Kenapa cuma 15 menit aja? Ya, karena alasannya seperti tadi, kalau kelamaan biasanya saya justru tergoda untuk tidak menyelesaikannya sama sekali. Lah daripada gitu kan, mending langsung diselesaikan saja segera atau tidak sama sekali.

Lebih Mudah Membangun Kebiasaan

Buat saya, melakukan aktivitas yang sama dan berulang dalam waktu singkat terasa lebih mudah dan lebih menyenangkan untuk dijadikan sebuah kebiasaan (habit).

Tahu sendiri kan, memulai kebiasaan baru itu tantangannya luar biasa. Berat di awal untuk mengalahkan penundaan-penundaan dan penyangkalan diri. Heeuuu.. seringnya nyari-nyari alasan aja untuk memaklumi kondisi kita yang “masih belajar” untuk konsisten, rrrrhh..

Bener juga sih yang dikatakan James Clear, sang pencetus Atomic Habit, bahwa semakin mudah dan sederhana rutinitas baik/produktif kamu lakukan, maka akan semakin nyaman dan cepat hal itu bisa berubah menjadi kebiasaan baik (good habit). Kalau kita sudah nyaman melakukannya, lama-lama akan terjadi begitu saja secara otomastis tanpa usaha yang besar untuk memulainya.

Heeem…masalahnya setiap orang tentu berbeda kemampuannya. Teknik 15 menitan ini mungkin cocok buat saya, tapi belum tentu buat teman-teman yang lain. So, coba kenali dirimu lebih baik lagi. Kira-kira kamu lebih nyaman melakukannya dalam 15 menit atau 25 menit atau mungkin cukup 10 menit aja? You know better..

Kuncinya, kita nyaman melakukannya dengan cara kita.

Kesimpulan

  • Kenali pencetus semangatmu ketika sedang produktif
  • Gunakan itu sebagai jalan masuk untuk membangun pola habit baru yang lebih baik

Misalnya nih, pencetus semangat saya buat produktif itu saatnya saya bangun lebih pagi, minum air putih, bikin kopi, buka laptop. Abis itu, langsung tentukan kegiatan yang mau saya lakukan dalam 15 menit. Pasang alarm. Lakukan dan patuhi waktu yang sudah ditentukan. Ulangi lagi.

Gitu seterusnya. Jangan takut gagal. Ulangi lagi sampai kamu merasa, “Oh,oke, ternyata saya bisa. Dan cukuplah buat hari ini”. Besok lagi, hihihiii…

Kalau kalian merasa terinspirasi, boleh kok pakai tips saya. Atau bisa modifikasi dengan gaya kamu sendiri, yang paling nyaman buat kamu. Yuk, sama-sama kita ya… (tos)