Kategori
Writing Journal

Belajar dari Tulisanmu

[ikedianpuspita.com] Simpan semua tulisan yang pernah kamu tulis di media sosial, kecuali kamu merasa benar-benar sudah tidak menganggap tulisanmu itu penting; atau kecuali kamu adalah seorang kuli berita, jurnalis media cetak, online, televisi, etc. yang masih dengan mudah bisa melacak hasil karya tulismu di media.

Menyimpan tulisan sendiri mulai dari tulisan pertama yang kamu buat sampai tulisan yang sekarang akan memudahkanmu untuk belajar dari tulisanmu sebelumnya. Bisa dari sisi pola pikir, keterampilan mengolah kata, gaya bertutur dalam tulisan, hingga perkembangan mental dan keperibadianmu sendiri. Ini salah satu cara untuk meningkatkan skill menulismu, selain belajar dari tulisan orang lain.

Seringkali kita lebih bersemangat mempelajari tulisan dan karya orang lain dibandingkan karya kita sendiri. Alih-alih ingin menimba ilmu menulis yang menurut kita lebih baik dari milik kita sendiri, justru kita terjebak untuk meniru gaya orang lain. Alih-alih masih belajar katanya, jangan-jangan kita tidak terlalu percaya pada kemampuan diri sendiri mengembangkan keterampilan menulis yang sebenarnya sudah cukup dimiliki untuk bisa memulai sebuah karya.

Saya tidak bermaksud bahwa belajar dari orang lain itu tidak baik loh ya. Pada kadar tertentu, kita perlu memberi ruang pada diri kita untuk bisa mempercayai kemampuan yang sudah kita miliki. Yakni, kemampuan dari hasil belajar sebelumnya dan mempercayai diri ini bahwa kita mampu mengembangkannya dengan lebih baik lagi.

Makanya, kadang-kadang saya menyesal pernah menghapus banyak tulisan-tulisan saya di blog lama. Dengan alasan bahwa tulisan saya itu tidak cukup bagus untuk disimpan. Terlalu lugu dan polos tata bahasanya, isinya, cara penyampaiannya dan segala macamnya.

Oke, mungkin itu memang benar, ya kan. Maklumlah karena memang baru penulis pemula. Semua yang expert di bidangnya pastilah pernah menjadi pemula. Semua yang sukses sebenarnya pernah jadi orang yang belum sukses. Pun penulis novel terkenal dulunya juga pernah menjadi penulis amatiran yang sama sekali belum tahu dunia tulis menulis.

Cobalah melihat dari sudut pandang yang berbeda, bahwa tidak semua yang baik itu harus datang dari luar diri. Jangan lupakan bahwa kita bisa menemukan mutiara sama indahnya di dalam diri kita seperti kita menemukan mutiara itu di karya orang lain.

Belajar mengenakkan tulisan itu butuh 1000 an jam terbang. Bukan sekedar mempraktekkan teknik menulis namun juga bagaimana mengolah rasa dalam sebuah tulisan. Sehingga tulisan itu menjadi tulisan yang seolah bisa berbicara dengan hati dan pikirannya. Duh, yang ini agak susah jelasinnya, hehe… Ya, gitu deh. Saya pun masih harus banyak berproses untuk sampai kesana.

So, jangan hapus tulisan-tulisan lamamu. Dia adalah bagian dari perjalananmu hingga sampai di titik ini. Terimalah, perhatikanlah, dan pelajarilah. Mungkin kamu akan menemukan mutiara yang lebih indah dan lebih unik di dalamnya. Berbeda dari mutiara yang dimiliki kebanyakan orang. Karena kita dikaruniai keunikan masing-masing.

Ini berlaku juga buat diri saya pribadi. Minimal menjadi cermin buat saya untuk tidak mengabaikan sesuatu yang sebenarnya sangat dekat, yakni diri saya sendiri.

Buang rasa malu dan khawatir untuk dikritik dan dinilai orang lain, karena kamulah yang lebih tahu tentang dirimu sendiri.

Semoga bisa menjadi reminder bersama.

Salam hangat selalu dari Klaten.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s