Kategori
Writing Journal

Menemukan Ritme Menulis

[ikedianpuspita.com] Jangan dikira jadi penulis itu enak. Jangan cuma dilihat pas sudah sukses menelurkan sebuah karya. Itu hanya puncuk gunung esnya saja.

Dibawah itu ada banyak sekali usaha, tenaga dan pikiran yang dicurahkan sampai sebuah buku terwujud.

Pengalaman menulis buku solo bagi saya sangat menantang sekali. Beda dengan ketika mencoba-coba menulis naskah buku bareng-bareng seperti buku antologi. Di proyek buku antologi, saya hanya bertugas untuk menyelesaikan satu tulisan saja. Sementara untuk menulis sebuah buku utuh karya sendiri. Saya mesti mulai menulis dari awal hingga akhir.

Dan itu memerlukan keteguhan dan komitmen supaya bisa selesai. Kalau mau dipaksakan sebenarnya bisa saja, selesai dalam jangka waktu yang relatif singkat. Tapi buat saya yang pemula ini, itu masih sulit sekali. Fokus untuk menulis masih saja terbagi-bagi dengan kepentingan yang lain.

Saya senang menulis. Namun tidak seperti mereka-mereka yang lebih rajin menulis. Saya senang menulis tapi tidak rajin menulis. Hehehe …, paradoks ya. Mungkin lebih tepatnya bukan tidak rajin menulis tapi tidak rutin menulis. Nah, itu ….

Saya tipe yang kalau diberi tekanan malah makin amburadul. Tapi bukan berarti saya tidak bisa bekerja di bawah tekanan. Bagi saya menulis itu seharusnya menjadi aktivitas yang menyenangkan. Tanpa tekanan apa pun.

Masalahnya adalah jika saya punya tujuan tertentu, sikap santai yang saya miliki ini menjadi bumerang yang bisa menghambat perkembangan diri saya sendiri.

Maka, saya perlu membangun satu sistem yang bisa membuat saya nyaman menulis namun tetap bisa mencapai tujuan yang saya inginkan secara mandiri.

Mengenali Ritme Menulis

Selama saya mengenali diri sendiri, ternyata saya termasuk orang pagi. Yang lebih fokus bekerja saat pagi hingga siang hari. Saya lebih suka bangun lebih pagi untuk menulis, atau siang hari saat anak-anak sibuk dengan jam bermain mereka sendiri. Itupun tidak bisa lama-lama. Paling lama hanya dua jam. Setelahnya saya mesti mengerjakan pekerjaan rumah tangga yang lain. Hal itu dilakukan berulang kali hingga menjadi kegiatan yang rutin yang kalau tidak mengerjakannya terasa ada yang kurang.

Bagaimana jika saya melewatkan sehari dua hari menulis? Saya berusaha menyadarinya, memaafkan diri ini, lalu mulai lagi dari awal. Jika masih terjadi lagi, maka saya akan mengulanginya lagi.

Akhir-akhir ini saya menggunakan bullet kalender untuk memantau perkembangan yang sudah saya capai. Intinya, jangan menyerah dan jangan membuat dirimu menderita dengan selalu merasa bersalah. Memaafkan diri sendiri membantu kita untuk lebih cepat move on dan fokus ke tujuan awal. Tidak ada orang lain yang bisa memaksamu selama kamu tidak mengijinkanya.

Ritme menulis yang terbentuk akan membantu saya dengan mudah masuk dan fokus pada naskah buku solo yang sedang saya kerjakan. Tanpa beban. Kalau sudah merasa tanpa beban, maka saya menjadi lebih mudah untuk melihat dan termotivasi mengejar tujuan utama yang ada di depan.

Ini versi saya. Bisa jadi akan berbeda dengan pengalaman teman-teman ๐Ÿ™‚ Tidak masalah, enjoy saja. Selama memiliki tujuan yang sama meski berbeda jalur, lakukan saja. Sampai tujuan dan mimpimu terwujud.

Salam!

3 replies on “Menemukan Ritme Menulis”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s