Compete With My Self

[ikedianpuspita.com] Istilah Compete with my self ini tak sengaja saya temukan saat melakukan blogwalking. Thanks to ewafebri.com for inspiring me. Yes, mbak eva memang menginspirasi saya dengan motto hidupnya “compete with my self, encourage other”.

Melihat ke diri sendiri, ternyata selama ini saya masih [bahkan sering] sibuk membandingkan diri dengan orang lain, dengan prestasi-prestasi yang dicapai orang lain, dan sayangnya kebanyakan saya menemukan kalau diri ini selalu merasa rendah diri dengan itu semua.

Orang bijak mengatakan bahwa jangan pernah membandingkan diri kita dengan orang lain. Dan ya itu benar juga sih, tapi entah kenapa saya tetap merasa kesulitan mengatasi rasa kecewa dan iri ketika melihat orang lain lebih baik dari saya. Memang tidak selalu sih. Hanya untuk hal-hal yang saya rasa sangat menyentuh personalitas saya. Heeem..agak susah jelasinnya ya hehe..

Ya, pokoknya gitu deh.. saya belum menemukan alasan yang tepat untuk menjawab kenapa saya harus merasa iri pada keberhasilan dan kesuksesan orang lain (apakah emak-emak sering gitu yah?). Apa karena posisiku yang hanya ibu rumah tangga saja? Tidak punya profesi tertentu yang dikerjakan?

Terus terang mom shaming* yang terjadi di wilayah motherhood itu sangat mempengaruhi cara seorang perempuan memandang dirinya, terutama mengenai perannya sebagai seorang ibu.

*[mom shaming : perilaku mempermalukan ibu lainnya, seakan diri sendiri lebih baik, lebih hebat dan paling sempurna  dari ibu lainnya]

*[motherhood : pengalaman yang berkaitan dengan keibuan]

Well, setelah bertemu dengan blognya mbak eva, saya berubah pikiran. Saya menyadari satu hal. Kompetisi yang paling sulit kita lakukan adalah ketika harus berkompetisi dengan diri sendiri. Hei, itu ide yang bagus bukan? Teriak diri saya dalam hati. Ya, masuk akal banget kan ya? Coba kita bayangin, dalam hal apa saja kita pernah berhasil berkompetisi dengan diri sendiri? Tentunya untuk menjadi lebih baik, ya kan.

Pertanyaan-pertanyaan seperti apakah saya lebih memilih untuk menyelesaikan pekerjaan tepat waktu daripada menonton drama korea favorit? Itu pertanyaan yang cukup berat buat saya, hahahaa.. Terus pertanyaan-pertanyaan yang lain seperti, Apakah saya memilih melakukan aktivitas yang mendukung saya lebih produktif dibanding berlindung pada alasan-alasan untuk menghindari itu? Berlindung pada alasan mengasihani diri sendiri, pada keterbatasan yang ada, berpikir tidak mampu sebelum mencoba, cepat menghakimi diri secara negatif. Dan mungkin akan semakin panjang kalo kita mau membuat listnya.

Heeem…tantangan yang cukup pelik ya kan? hehe.. saya tidak selalu berhasil mengatasi semuanya sih. Di tengah jalan pasti ada momen-momen selalu balik lagi dan mandek. Yaaah tapi tetap aja berusaha dinikmati deh..hihihi.. Dibawa se-low aja,ye kaaan.

Tidak perlu menguras energi untuk berpikir menjadi lebih baik dari orang lain. Cukup berpikirlah menjadi lebih baik dari diri sendiri saat ini. Itu reminder buat saya.

Berusaha lebih keras dan berlomba menjadi lebih baik dengan diri sendiri. Menurut saya itu lebih baik. Dan jika kita berhasil menjadi lebih baik, maka orang lain pun pasti tidak akan menyangkal bahwa kita adalah versi diri kita yang terbaik. [yuk yak yuk…semangat berusaha!]

Yes, saya suka dengan ide ini. Bagaimana dengan kamu..? suka juga gak? Beritahu saya di kolom komentar ya. And happy day always, guys!

Leave a Comment

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s