Toxic Mother

by Ike Dian Puspita

Any negative behaviour that causes emotional damage or contaminates the way a person sees himself or herself, is toxic – Karen Young

Beberapa waktu lalu saya menemukan bahasan soal toxic parent di internet. Merasa tertarik, saya lalu searching mengenai topik ini. Dari frasa katanya, toxic parent, sudah bisa diduga bahwa ini pasti berkaitan dengan pola asuh orangtua yang memberi pengaruh buruk (‘beracun’) pada perkembangan anak. Tidak berbeda jauh dengan toxic parent, toxic mother kurang lebih juga demikian.

Saya tertarik membahas toxic mother ini karena tentu saja berkaitan dengan peran saya sebagai ibu ya kan.

Jadi, bagaimana toxic mother ini sesungguhnya?

***

https://id.theasianparent.com/toxic-parents/amp

Sebelum ke toxic mother, saya akan menyinggung sedikit soal toxic parent.

Perilaku pola asuh yang buruk biasanya akan meninggalkan pengalaman traumatik pada tumbuh kembang anak, terutama secara psikologis. Jangan-jangan kita pun sebenarnya juga memiliki traumatik tertentu mengenai hal ini. Seperti sering dibanding-bandingkan, sering dituntut hal-hal yang mungkin bukan kesukaan kita, kebisaan kita atau bahkan yang mungkin belum kita pahami. Jika dari salah satu indikator tersebut Anda menganggukkan kepala, bisa jadi itu salah satu tanda Anda pernah mendapatkan pengaruh toxic parenting saat tumbuh kembang Anda.

Saya tidak bermaksud ingin mengorek benar atau salah soal pola pengasuhan yang Anda alami atau yang sedang Anda jalani saat ini. Disadari atau tidak pola asuh yang kita terapkan pada anak-anak kita umumnya dipengaruhi oleh pola asuh yang pernah kita alami sebelumnya. Karena menjadi orangtua itu tidak ada sekolahnya, maka kita akan menggunakan sumber pengalaman dan memori kita sebagai anak dalam menerapkan pola asuh kita pada anak-anak.

Nah, orang-orang yang disebut sebagai toxic parent bisa dipastikan pernah mengalami siklus pola asuh yang tidak sehat ini atau memiliki pengalaman disfungsional dalam keluarga sebelumnya sehingga mereka memiliki potensi toxic parenting pada anak-anaknya.

Tahu enggak, kalau luka-luka batin yang terjadi di masa kecil yang tidak mendapatkan penanganan terapi pemulihan, akan mengendap di bawah sadar kita dan bisa muncul ketika dewasa saat pemicu-pemicunya mentrigger emosi kita.

Heeem… dari hasil pencarian saya soal toxic parenting, situasi toxic itu bukan hanya berupa kekerasan fisik maupun mental dalam keluarga. Namun, yang harus lebih diwaspadai adalah pembenaran atas nama cinta. Biasanya orangtua akan berdalih bahwa semua itu karena demi kebaikan anak-anak, atau karena terlalu sayang. Padahal bisa jadi, anak-anak merasa terluka tanpa mampu mengungkapkannya pada orangtua karena merasa sungkan, takut dan merasa bersalah jika marah pada orangtua mereka.

Perlakuan pola asuh yang “beracun” yang berlangsung terus menerus dan berulang, akan berdampak pada psikologis anak. Dia bisa jadi sangat penurut dengan menekan semua hal yang diingkannya. Atau mereka bisa jadi pembangkang dan memberontak terhadap orangtuanya.

Yang lebih miris lagi jika efeknya sampai mengubah anak-anak menjadi “monster yang menakutkan”, sama seperti orantua mereka saat mereka memperlakukan anak-anak mereka kelak.

***

Toxic Mother

https://id.theasianparent.com/toxic-parents/amp

Oke, sekarang soal toxic mother.

Ibu adalah orang yang paling dekat dengan anak-anak, orang pertama yang dikenal dan mengenalkan kasih sayang pada anak-anak. Bayangkan jika ibu menjadi sosok yang toxic (beracun) buat anak-anaknya. Bagaimana kira-kira nanti tumbuh kembang anak-anaknya?

Sayangnya literatur mengenai toxic mother yang saya temui masih banyak ditulis dalam bahasa Inggris. Tapi tak mengapa, karena situasi psikologis umumnya hampir sama.

Hubungan toxic mom ini biasanya sering terjadi antara ibu dan anak perempuannya. Namun tidak menutup kemungkinan juga terjadi pada relasi ibu dan anak laki-lakinya.

Apakah Anda sering …

  1. Mengeluarkan kritik terus menerus pada anak
  2. Mengontrol berlebihan
  3. Memanipulasi dan membuat anak merasa bersalah (Guilt tripping)
  4. Menghina anak dengan candaan dan sindiran
  5. Mengabaikan emosi anak
  6. Bersikap pasif agresif
  7. Kurang menghormati privasi anak
  8. Merasa bahwa pikiran dan perasaan Anda lebih penting dibandingkan apa yang dipikirkan dan dirasakan anak Anda

Ini baru sebagian kecil dari indikator sikap-sikap yang ditunjukkan oleh seorang toxic mom.

Seseorang bisa berubah menjadi toxic mother karena ada hal-hal yang memicunya berbuat seperti itu. Bisa jadi mereka pernah mengalami hubungan pola asuh beracun juga dengan orangtua mereka. Yang melumpuhkan kemampuan mereka dalam mengontrol dan mengendalikan setiap aspek dalam kehidupan mereka.

Orang-orang toxic ini merasa tidak nyaman dengan diri mereka sendiri dan selalu menempatkan kesalahan di luar diri mereka.

Dampak relasi toxic antara ibu dan anak-anaknya akan sangat terlihat pada anak-anak yang minder dan silent comment, karena mereka terbiasa mendapat tekanan atau selalu disalahkan (dipandang salah) oleh ibunya. Atau anak yang memiliki sifat berontak, dia akan mudah berubah menjadi seorang anak yang pemberontak dan melawan kata-kata ibunya.

Tentu hal ini bukanlah hal yang baik, bukan?

Oke, di awal tulisan ini saya mengutip sebuah kalimat, “Any negative behaviour that causes emotional damage or contaminates the way a person sees himself or herself, is toxic”. Artinya, sebuah perlakuan buruk apa pun yang menyebabkan kerusakan emosional atau mempengaruhi cara pandang seseorang mengenai diri mereka sendiri dengan buruk disebut sebagai perilaku yang beracun (toksik). Sementara toxic mother adalah ibu yang memperlakukan anak-anak mereka dengan cara tertentu yang membuat anak-anak merasa ragu bahwa mereka dianggap penting, dianggap berharga keberadaannya, bahwa mereka layak mendapatkan cinta yang tulus dari ibunya.

Jadi, ketika anak-anak berperilaku tidak baik atau beriperilaku tidak semestinya yang kita harapkan, tolong jangan buru-buru untuk menghakimi mereka dengan kemarahan. Bisa jadi, ada pengaruh pengasuhan dari kita yang kurang baik yang melukai perkembangan emosi dan mental mereka.

Anda bisa melihat kembali beberapa indikator yang sudah saya tuliskan sebelumnya. Toxic mother bisa terlihat dalam berbagai bentuk.

Ada yang terlihat secara jelas memperlakukan anaknya dengan buruk, seperti memarahi anaknya dengan berteriak, memarahi anaknya di depan orang lain, dan ada yang terlihat lebih halus. Seperti bersikap pasif agresif, merajuk atau ngambek jika anak-anaknya tidak mau memenuhi dan mematuhi apa yang diminta oleh sang ibu. Apapun itu, semuanya bisa berpotensi untuk melukai emosi psikologis anak.

Nah, gimana? Mulai terbukakah, ibu? Coba perhatikan, apakah ada diantara anak-anak kita yang mulai memperlihatkan tingkah laku tidak ceria di tengah teman-temannya? Atau perilaku yang merugikan teman-temannya?

Perhatikan bagaimana anak Anda bergaul dan bertingkah laku di lingkungannya. Mungkin ini bisa menjadi pintu masuk yang baik untuk mulai memperbaiki, merehabilitasi relasi yang ada diantara ibu dan anak, antara orangtua dan anak.

Tetap jaga semangat dan kesehatan Anda.

Salam

3 Comments

Leave a Comment

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s