Berdamai dengan Emosi Ibu

by Ike Dian Puspita

Ilustrasi ©pixabay

Berdamai artinya bisa menerima…

Beberapa waktu lalu saya tertarik ikutan kelas online dengan tema ini, “Berdamai dengan emosi ibu”. Seolah semesta tahu apa yang sedang saya butuhkan sekarang.

Bertemu dengan teman-teman yang memiliki persoalan yang hampir sama membuat saya merasa tidak sendirian. Ternyata itu problem kebanyakan seorang ibu, mungkin juga ayah. Masalahnya ibu adalah sosok yang paling dekat dengan anak dan yang pertama bersentuhan langsung dengan kondisi rumah, mau tidak mau ibu lebih sering terpapar hal-hal yang seringkali menguji kesabarannya.

Dan saya menyadari hal itu…

Tidak baik kalau emosi yang tertahan atau bahkan yang meluap-luap tidak ditangani dengan semestinya. Keseimbangan hidup ibu pun akan terganggu.

Ilustrasi ©pixabay

Pernah dengar atau baca kan ya pepatah “Happy Mom, Happy Kids, Happy Family”. Itu bener banget deh… Kalau diri kita sendiri enggak happy, belum bisa menerima diri kita sendiri secara utuh, baik sisi positif dan sisi negatif kita, mustahil rasanya kita bisa menciptakan lingkungan yang bahagia di luar lingkaran diri kita.

Trus gimana caranya dong biar bisa berdamai dengan diri kita?

Ini beberapa hal yang coba saya rangkum dari hasil belajar online saya, mungkin bisa memberikan sedikit pencerahan.

  1. Menerima bahwa diri kita ini tidak sempurna

Ada saat dimana sebagai ibu, saya ingin semuanya sempurna. Rumah yang bersih tertata, anak-anak yang manis dan penurut, suami yang baik dan setia, juga finansial yang tidak berkekurangan.

What a perfect life!” ya kan..

Tapi kenyataan tidak pernah semanis mimpi. Realitas seringkali tak pernah akur dengan Idealisme. Jadi yang perlu saya lakukan adalah bangun dari mimpi. Saya harus menyadari bahwa yang bisa kita lakukan hanyalah mendekati impian itu, bukan hidup didalamnya. Seperti kita tahu bahwa tidak ada yang sempurna selain Tuhan saja. Jadi kita ini ya pastinya tidak sempurna. Kalau kita merasa di salah satu sisi hidup kita itu sempurna, some how ada sisi lain, bagian diri kita yang lain tidak akan sempurna.

Misalnya aja ketika saya memutuskan untuk bekerja di luar rumah dengan berbagai alasan, saya tidak bisa secara penuh memantau dan menghandle kondisi rumah dan anak-anak. Atau ketika saya memutuskan untuk stay di rumah aja bareng anak-anak, saya pun tidak bisa berharap mampu membantu keuangan keluarga seperti halnya ketika saya bekerja di luar rumah.

Even jika saya punya bisnis dari rumah, dikerjakan di rumah sendiri, tentu saya juga butuh ruang untuk bisa mengerjakan bisnis saya tanpa harus diganggu anak-anak atau pekerjaan rumah, bukan?

Atau sebagai ibu rumah tangga saja, saya juga tidak bisa 100 persen bisa melakukan semua hal dengan baik dan melayani semua kepentingan anggota keluarga dengan sempurna. Pasti ada bagian diri saya yang lain menuntut untuk juga diperhatikan.

So, I’m not a perfect mom, because I’m not a perfect man.

Saya harus menerima itu, dan saya harus memahaminya. Tidak ada yang sempurna di dunia ini.

Kalau saya sudah bisa menerima diri saya apa adanya, maka saya bisa…

2. Menerima bahwa setiap manusia adalah unik

Setiap manusia memiliki keunikan mereka masing-masing. Begitu juga dengan anak-anak, suami dan anggota keluarga yang lain.

Anak-anak bukanlah miniatur dari saya dan suami. Namun mereka adalah sosok pribadi-pribadi manusia yang baru. Yang membawa kekurangan dan kelebihan mereka sendiri.

Sebagai orangtua, saya perlu menghormati hal tersebut. Apalagi pola pikir mereka pun belum bisa disamakan dengan pola pikir kita yang dewasa. Kita lah yang perlu turun menyelami pemikiran mereka. Memposisikan diri kita sejajar dengan mereka. Karena memang belum waktunya bagi mereka untuk bisa kita ajak bertukar pikiran layaknya orang dewasa.

Yang bisa kita lakukan adalah mengajak mereka berdiskusi dengan bahasa yang mereka pahami, yakni bahasa anak-anak.

Namun tentu saja usaha ini adalah perjuangan orangtua yang tiada hentinya. Berjuang untuk terus memahami mereka. Belajar untuk terus menjadi orangtua yang bisa mereka andalkan dalam kehidupan.

Karenanya saya perlu…

3. Menerima diri berarti menemukan bahwa diri kita berharga (Self Worth & Self Acceptance)

Bagaimana kita bisa mengatakan bahwa anak-anak adalah sesuatu yang sangat berharga bagi kita orangtua jika kita sendiri belum menyadari bahwa diri kita ini juga berharga?

Pertanyaan yang filosofis memang.. tapi terdengar benar di telinga saya.

Berdamai dengan emosi diri sendiri itu berarti terjadi proses menerima..menerima keadaan diri sendiri. Menerima proses emosi yang sedang terjadi di dalam diri sendiri.

Mentor self development saya pernah mengajarkan bahwa untuk memahami emosi yang muncul perlu ditelusuri penyebabnya. Apa sebenarnya yang memicu munculnya emosi marah atau kecewa dalam diri saya.

Perlu kejujuran untuk bisa menjawabnya.

Biasanya saya akan melontarkan pertanyaan-pertanyaan semacam ini, Benarkah ini yang membuat saya marah? Benarkah ini yang benar-benar membuat diri saya kecewa? Lalu kenapa saya harus marah? Atau kenapa saya harus merasa kecewa?

Kita perlu jujur pada emosi yang sedang kita rasakan saat itu.

Nah, ini nih yang terkadang susah banget untuk diakui oleh perempuan hehe… Terutama perempuan jawa seperti saya. Karena dari kecil lingkungan kita tidak membiarkan perempuan leluasa mengeluarkan pendapat tentang diri dan pemikirannya.

Perempuan seolah dituntut untuk “diam”dan manut (patuh). Marah pun mereka marah dalam diam, ngambek, dan disimpan dalam hati.

Padahal ya bu, itu tuh bikin sesak napas kan ya kalau lama-lama dipendam..

Makanya, secara naluri perempuan itu akan lebih sulit untuk bisa memahami emosinya sendiri secara terbuka.

Kesehatan Jiwa

Proses menerima diri ini terkait dengan kesehatan jiwa loh bu. Ibu-ibu perlu menyadari bahwa kesehatan jiwa itu bukan cuma terkait dengan depresi, stress dan gangguan kejiwaan.

Menurut WHO (2014), kesehatan jiwa adalah kondisi dimana individu mampu mengenali potensi dirinya, dapat mengatasi tekanan/stress yang ditemui sehari-hari, dapat bekerja secara produktif, dan berkontribusi untuk komunitasnya.

Jadi lebih luas ya pengertiannya. Seperti mengenali potensi diri itu ternyata salah satu indikator kesehatan jiwa juga.

Nah, emosi-emosi negatif yang dirasakan ibu itu bisa mempengaruhi kesehatan jiwa ibu.

Jika kita menyadari bahwa hidup ini layaknya mengendarai sebuah kapal kecil di tengah lautan menuju pulau impian kita. Ada kalanya di tengah perjalanan badai mengombang-ambingkan kapal kita, ada kalanya pula kita mengarungi laut yang tenang dan damai.

Yang bisa kita lakukan adalah bagaimana kita bisa mengendalikan kapal kita agar tetap bisa berjalan sampai ke negeri impian kita dengan selamat.

Tahukah ibu, bahwa dalam sebuah kapal pasti ada jangkarnya. Jangkar inilah yang bisa menyelamatkan kapal dari terjangan badai yang melanda.

Jangkar dalam kehidupan kita itu adalah kekuatan diri kita sendiri, ibu.

Kekuatan inilah yang akan menemani kita untuk senantiasa bertahan menghadapi segala rintangan hidup. Kekuatan ini berupa penerimaan diri. Menerima dengan ikhlas apa yang terjadi pada diri kita. Menerima bukan berarti lemah, namun adalah bentuk kekuatan diri yang kita miliki.

Menurut Shepard (1979), penerimaan diri biasanya dicapai ketika seseorang berhenti mengkritik kekurangan di dalam diri dan menerima bahwa diri ini tidak sempurna serta menyadari kelebihan yang dimiliki.

Seseorang yang mampu menerima diri sendiri dengan baik, memiliki penyesuaian diri dan penyesuaian sosial yang baik (Hurlock, 1974).

Penyesuaian diri itu antara lain memiliki keyakinan dan kepercayaan diri, tahu kelebihan dan kekurangan yang dimiliki, dan mampu mengeluarkan potensi dengan maksimal.

Sementara penyesuaian sosial antara lain adalah mampu merasa nyaman ketika menerima orang lain, mampu memberikan perhatian pada orang lain, dan mampu berempati pada orang lain.

Proses ini akan membawa kita pada proses selanjutnya yakni kemampuan untuk menemukan bahwa diri kita adalah pribadi yang berharga (Self Worth).

Self Acceptance          ——->                Self Worth

Self worth sendiri adalah pengetahuan yang mendalam bahwa diri kita ini bernilai, pantas dicintai, dan diperlukan dalam kehidupan (Sehati Jiwa). Masing-masing dari kita memiliki peran yang penting dan sebaik-baiknya di alam semesta ini. Jadi jangan abaikan proses ini.

Self worth ini bermanfaat membantu untuk memahami keunikan diri kita, mendorong dan memotivasi kita untuk mencoba hal-hal yang baru, bahkan membantu kita mampu untuk melalui hal-hal yang sulit. Tidak mudah menyerah begitu saja. Jika gagal dan jatuh maka kita akan mampu bangkit kembali.

*

Nah, jadi gitu ya bu. Jangan mau berlama-lama marah dan kecewa. Jangan mau memendamnya terus menerus. Temukan teman atau sahabat yang mau berbagi duka juga, bukan hanya sukanya saja J

Jika kita menemukan diri kita butuh pertolongan yang lebih mendalam, jangan ragu untuk mencari orang-orang yang ahli atau tenaga profesional di bidangnya.

Karena dirimu, diri kita ini berharga J

Ibu berhak bahagia…

Leave a Comment

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s