#Day 1 : Take Your Time

[ikedianpuspita.com] Mengerjakan tugas rumahan itu serasa gak ada habisnya. Baru sebentar diberesin..eh dah berantakan lagi. Baru nengok sebentar aja, eeh…tumpukan setrikaan dah berubah jadi wahana. Hadeeew…buneee! [panggilan ibu di jawa] Pie ikiii…?!!

Eitdaaah.. menikmati situasi aman, tenang dan rapi sewaktu masih punya krucil-krucil lucuk gitu cuma lewat doang..

Hehe, akhirnya saya banyak ngilmu dan belajar pada mentor-mentor personal development untuk ngebantu menemukan “diri” kembali.

Suka Jadi Pusat Perhatian

Setelah sekian lama memikirkan dan memberikan diri untuk orang lain di luar diri sendiri, maka saatnya saya untuk duduk diam. Fokus pada diri sendiri, memikirkan apa yang sebenarnya ingin saya pikirkan, lakukan dan ingin saya cintai dengan sungguh-sungguh.

Kembali melihat diri ini.. menyadarinya.. memahami betapa berharganya pula diri ini.

Iya, kadang-kadang saya gak sadar kalo saya sudah terlalu memaksakan diri. Hanya demi sesuatu yang sering dibanggakan di lingkungan motherhood, “menjadi ibu yang sempurna”.

Eehm…sebenarnya ini cukup mengganggu juga sih.. Cukup mengganggu dalam arti mempengaruhi penilaian kita terhadap diri sendiri. Dan sudah nature-nya kita ini umumnya suka menjadi pusat perhatian. Menjadi yang terbaik, menjadi yang paling bagus, paling cantik, paling pintar, dan paling paling lainnya.

Makanya, sebisa mungkin, dan sekuat mungkin mengusahakan diri ini memenuhi “label” yang diciptakan lingkungan sosial itu sendiri. Hasilnya kadang-kadang bikin capek diri sendiri. Bikin capek hati dan pikiran kita. Padahal mungkin orang lain tidak peduli apa yang kita rasakan dan bagaimana kita harus menangani hal itu.

Take Your Time

Oke… mari kita coba tinggalkan keriuhan tadi sejenak. Just take a breath.. release.. and take your time..

Rasakan cinta di dalam diri kita. Berikan senyuman dan kata-kata “selamat” pada diri kita sendiri. Good job, momi! Good job..

Setelah cinta terpenuhi di dalam diri, maka kita akan mulai bisa melihat rencana, impian dan cita-cita untuk kita sendiri dan orang-orang yang kita cintai. Inilah saatnya kita menuliskan 100 impian yang ingin kita lakukan, 100 impian untuk orang-orang yang juga kita cintai.

Merencanakan kembali hidup yang ingin kita jalani hari ini dan kemudian hari. Membuat agenda kecil untuk setiap impian yang ingin diraih.

Kesimpulan

Saya sudah menjadikan aktivitas ini sebagai rutinitas pagi sebelum melakukan semua aktivitas dan “tugas negara”. Dan rasanya beneran plong dan optimis. Saya merasa bisa pegang kendali hari itu. Nah, ini penting banget buat saya untuk merasa bahwa apa yang terjadi hari itu masih dalam kendali. Jadi saya enggak akan merasa kewalahan seharian. Itu penting buat momi ya kaan.. 🙂

Merasa positif di awal hari adalah pertanda baik yang memantik kita lebih produktif di hari itu. Hehe.. gitu sih kalo saya 🙂

Baiklah, terima kasih sudah bertahan membaca artikel ini sampai akhir ya. Boleh banget dishare atau disimpan buat dibaca-baca lagi. Semoga bermanfaat!

Be positif, be you..

7 Days Challenge For Productive Mom

[ikedianpuspita.com] Sebenarnya ini challenge ala-ala saya. Setelah beberapa kali ikut kelas online personal development dan mempraktekkannya dengan “berat” berkali-kali, hahahaa.. iya, berkali-kali karena selalu gagal menyelesaikan tantangan hingga akhir. Duh, kasian banget deh akyuu..

Akhirnya, saya menemukan pola yang cocok untuk saya.

Heem…semua hal di dunia ini membutuhkan proses. Bahkan tanaman pun berproses untuk tumbuh besar dan menjadi pohon hingga menghasilkan buah. So, saya ini naif sekali ketika berharap setelah ikut kelas online meningkatkan produktivitas diri langsung bisa produktif begitu saja tanpa menjalani prosesnya terlebih dahulu.

Jadi ingat, ada anak yang sedang belajar menghadapi ujian dan berharap nilainya bagus tapi cara belajarnya dengan membuat ramuan minuman dari kertas-kertas buku pelajarannya yang disobek-sobek, diaduk kemudian diminumnya sendiri. Berharap besok pagi, secara otomatis dia akan langsung tahu jawaban dari soal-soal ujiannya itu dengan benar.

Wkwkwkwk.. konyol!!

Nah, bukannya saya tadi juga berpikiran hampir sama dengan anak tadi? Hadeeeh…

Seorang bijak berkata, “Bagaimana caranya kamu menghabiskan seekor gajah?”

Tentu saja jawabannya ya dimakan. Tapi bagaimana caranya makan? Apakah langsung dicaplok begitu saja agar cepat habis? Mampukah kamu menghabiskannya dengan cara demikian?

Heem..mulai rada-rada filosofis ya..hehe..

Ya, jadi gitu, cara menghabiskan seekor gajah itu tadi tentu saja dengan cara memotongnya terlebih dahulu menjadi bagian-bagian kecil yang bisa kita makan, yang bisa masuk ke mulut kita. Berapa lama menghabiskannya? Tergantung kemampuanmu mencerna makanan itu hingga semua bagian dari gajah itu bisa masuk ke dalam tubuhmu. Bisa seminggu, sebulan atau beberapa bulan.

Begitu juga ketika kita ingin menjadi produktif.

Ada tahap-tahap yang perlu kita lalui dan kita bangun agar nantinya kita memiliki habit produktif yang terinstal secara otomatis. Tanpa harus berusaha keras menyuntikkan motivasi-motivasi dan inspirasi agar bisa bergerak produktif.

Motivasi itu perlu. Mencari inspirasi juga penting. Tapi dengan memiliki habit produktif, energi kita menjadi lebih efektif dan efisien untuk digunakan memikirkan hal lainnya lagi.

Produktif itu habit, bukan karakter dasar yang dibawa dari lahir. Kebiasaan-kebiasaan baik yang dibentuk menjadi pola hidup (habit) seseorang bisa menjadi karakter positif tertentu yang membuat orang tersebut mampu berkembang dan memiliki dampak dalam hidupnya.

Oke, balik ke bahasan tadi. Proses menjadi produktif itu kemudian saya adjust ke diri saya. Menjadi 7 tahapan sederhana [yang saya sebut disini sebagai 7 days challenge] yang mungkin sekali untuk bisa diduplikasi atau ditiru oleh siapa saja. Bisa banget di-customize sesuai kondisi dan situasi masing-masing.

Dibuat mudah saja ya kan, supaya kita pun enjoy menjalaninya.

Itu dia! Persoalan umum mental block yang terjadi ketika orang ingin benar-benar produktif adalah “berpikir pasti SULIT dahulu sebelum memulai”.

Makanya, salah seorang mentor saya memberi tips agar memasukkan kegiatan-kegiatan produktif itu dalam aktivitas sehari-hari. Misalnya, membaca buku sebelum tidur, menulis 3 kalimat setelah bangun tidur di pagi hari, berolahraga 10 menit setiap hari sebelum beberes rumah, atau minum segelas air putih setelah bangun tidur. Bangun tidur, pergi tidur, melakukan house keeping, dll, semua itu aktivitas harian yang tidak memerlukan usaha keras setiap kali melakukannya.

Oke, mungkin saya akan membuat bahasan artikelnya di kesempatan lain.

Nah, 7 Days Challenge ala-ala saya itu antara lain saya tulis di bawah ini. Dan masing-masing akan saya buat menjadi 7 artikel terpisah untuk menjelaskannya. Kalian bisa mengklik tautan dari tulisan ini ya.

Hehe…doakan saya agar bisa selesai menulisnya satu persatu… huuh hhaah..syemangaaat!

Day 1 : Take Your Time

Day 2 : Bangun Lebih Pagi – Miliki Morning Routin

Day 3 : Selesaikan dalam 15 menit!

Day 4 : 1 menit yang berharga

Day 5 : Zero Inbox and Blocking Time

Day 6 : Tabungan Syukur

Day 7 : Enjoy Your Time!

Heem..seru gak kira-kira? Hehe.. buat yang tertarik ikutan challenge juga, selamat! Nikmatilah proses yang teman-teman alami ya.

Just be yourself and enjoy.

Compete With My Self

[ikedianpuspita.com] Istilah Compete with my self ini tak sengaja saya temukan saat melakukan blogwalking. Thanks to ewafebri.com for inspiring me. Yes, mbak eva memang menginspirasi saya dengan motto hidupnya “compete with my self, encourage other”.

Melihat ke diri sendiri, ternyata selama ini saya masih [bahkan sering] sibuk membandingkan diri dengan orang lain, dengan prestasi-prestasi yang dicapai orang lain, dan sayangnya kebanyakan saya menemukan kalau diri ini selalu merasa rendah diri dengan itu semua.

Orang bijak mengatakan bahwa jangan pernah membandingkan diri kita dengan orang lain. Dan ya itu benar juga sih, tapi entah kenapa saya tetap merasa kesulitan mengatasi rasa kecewa dan iri ketika melihat orang lain lebih baik dari saya. Memang tidak selalu sih. Hanya untuk hal-hal yang saya rasa sangat menyentuh personalitas saya. Heeem..agak susah jelasinnya ya hehe..

Ya, pokoknya gitu deh.. saya belum menemukan alasan yang tepat untuk menjawab kenapa saya harus merasa iri pada keberhasilan dan kesuksesan orang lain (apakah emak-emak sering gitu yah?). Apa karena posisiku yang hanya ibu rumah tangga saja? Tidak punya profesi tertentu yang dikerjakan?

Terus terang mom shaming* yang terjadi di wilayah motherhood itu sangat mempengaruhi cara seorang perempuan memandang dirinya, terutama mengenai perannya sebagai seorang ibu.

*[mom shaming : perilaku mempermalukan ibu lainnya, seakan diri sendiri lebih baik, lebih hebat dan paling sempurna  dari ibu lainnya]

*[motherhood : pengalaman yang berkaitan dengan keibuan]

Well, setelah bertemu dengan blognya mbak eva, saya berubah pikiran. Saya menyadari satu hal. Kompetisi yang paling sulit kita lakukan adalah ketika harus berkompetisi dengan diri sendiri. Hei, itu ide yang bagus bukan? Teriak diri saya dalam hati. Ya, masuk akal banget kan ya? Coba kita bayangin, dalam hal apa saja kita pernah berhasil berkompetisi dengan diri sendiri? Tentunya untuk menjadi lebih baik, ya kan.

Pertanyaan-pertanyaan seperti apakah saya lebih memilih untuk menyelesaikan pekerjaan tepat waktu daripada menonton drama korea favorit? Itu pertanyaan yang cukup berat buat saya, hahahaa.. Terus pertanyaan-pertanyaan yang lain seperti, Apakah saya memilih melakukan aktivitas yang mendukung saya lebih produktif dibanding berlindung pada alasan-alasan untuk menghindari itu? Berlindung pada alasan mengasihani diri sendiri, pada keterbatasan yang ada, berpikir tidak mampu sebelum mencoba, cepat menghakimi diri secara negatif. Dan mungkin akan semakin panjang kalo kita mau membuat listnya.

Heeem…tantangan yang cukup pelik ya kan? hehe.. saya tidak selalu berhasil mengatasi semuanya sih. Di tengah jalan pasti ada momen-momen selalu balik lagi dan mandek. Yaaah tapi tetap aja berusaha dinikmati deh..hihihi.. Dibawa se-low aja,ye kaaan.

Tidak perlu menguras energi untuk berpikir menjadi lebih baik dari orang lain. Cukup berpikirlah menjadi lebih baik dari diri sendiri saat ini. Itu reminder buat saya.

Berusaha lebih keras dan berlomba menjadi lebih baik dengan diri sendiri. Menurut saya itu lebih baik. Dan jika kita berhasil menjadi lebih baik, maka orang lain pun pasti tidak akan menyangkal bahwa kita adalah versi diri kita yang terbaik. [yuk yak yuk…semangat berusaha!]

Yes, saya suka dengan ide ini. Bagaimana dengan kamu..? suka juga gak? Beritahu saya di kolom komentar ya. And happy day always, guys!

Merdeka Ala Ibu Rumah Tangga

[Ikedianpuspita.com] Mumpung masih di suasana bulan Agustus, topik kemerdekaan tentu adalah topik trending yang paling banyak dibahas orang. Heeem…mungkin boleh dibilang saya telat kalo mau ngebahas soal tema merdeka di penghujung bulan Agustus. Sudah telat. Bu! Hahahaa..

Tapi gak papa ya (hehe..ngomong sama diri sendiri), toh bulan Agustus belum berlalu. Jika berlalu pun, tema merdeka ini tema yang evergreen, alias tema yang bisa dibahas kapan saja especially saat peringatan independent  day.

Sekian tahun berlalu, perayaan kemerdekaan tetap indentik dengan lomba-lomba perayaan tujuhbelasan. Hanya tahun ini yang benar-benar terasa beda karena harus tetap di rumah dan menjaga jarak akibat pandemik yang masih berlangsung.

Di RT saya mah lomba tujuhbelasan sudah ditiadakan. Demi keamanan dan kenyamanan bersama serta stabilitas nasional agar tetap terjaga. Beeuh..hehe.

Ya gitu deh. Semua dilalui dengan rangkaian acara virtual melalui media massa dan media sosial.

Oke, saya gak mau bahas gimana suasana tujuhbelasan di tempat saya. Ya, pasti gak akan jauh beda dengan daerah lain kan ya, terutama di masa pandemik ini.

Saya cuma mau nulis beberapa poin pengalaman selama bulan-bulan sebelum bulan kemerdekaan ini.

Menjadi Ibu Rumah Tangga yang Merdeka

Disini maksud saya adalah kondisi dimana, saya sebagai ibu rumah tangga bisa merdeka dari belenggu. Belenggu dari management waktu yang berantakan, karena menyelesaikan pekerjaan rumah harian itu ternyata dan emang iya cukup menguras energi. Belum lagi kewajiban harus mengasuh anak dan mengurus belanjaan.

Sepertinya sepele sih ya, hehe. Tapi tahu enggak kenapa pekerjaan rumah dan mengasuh anak itu begitu menguras energi? Setelah saya renung-renungkan, di setiap pekerjaan rumah dan mengasuh anak itu bukan soal sekedar menyelesaikan pekerjaan, tapi juga bagaimana kita meletakkan cinta disana. Berdialog dan memberikan diri kita seutuhnya saat mengasuh anak-anak.

Kita enggak bisa setengah-setengah perhatiannya ketika anak ngajak ngobrol atau minta ini minta itu. Bisa-bisa salah persepsi dan hanya menimbulkan luka batin di masing-masing pihak.

Itu butuh energi, sayangku. Energi positif yang mampu membuat kita menjadi matahari bagi keluarga kita. Nah, padahal energi saya itu selalu naik turun gunung, muter-muter gak jelas kalau lagi capek. Bahkan kadang seharian bisa jadi ndelosor… (tiarap) hahahaa.. hadeeeh.

Yaaah, saya masih berlajar banyak dan berjuang untuk menyeimbangkan hal itu.

Merdeka Belajar, Belajar Merdeka

Semenjak menjadi ibu, saya harus siap menjadi manusia pembelajar terus menerus. Karena, tidak ada yang baku dalam parenting. Mengikuti perkembangan jaman dan perkembangan anak-anak, membuat saya perlu untuk terus mengupdate dan mengupgrade diri sendiri.

Kan saya sudah pernah ngerasain dulu jaman jadi anak-anak dan orang muda. Sudah ngerasain gimana jurang perbedaan antara generasi orangtua jaman dulu dengan generasi saya hahahaa..

Kalau saya gak siap untuk membuka diri dan pikiran belajar hal-hal baru, mungkin pola pengasuhan saya akan sama dengan pola pengasuhan orangtua jaman dulu ya, yang kata anak-anak jaman saya dibilang kolot. Bisa jadi saya juga akan jadi orangtua yang kolot.

Jadi, hayuk deh..saya mah oke-oke aja belajar hal-hal baru sepanjang itu memberikan manfaat positif. Demi siapa kalau bukan demi anak-anak, ya kan? Saya ingin menjadi sahabat mereka juga sampai mereka dewasa nanti.

Kesimpulan

Kemerdekaan selalu memunculkan ide-ide baru untuk terus mengembangkan diri. Karena merdeka berarti bebas dari belenggu. Belenggu yang selalu membatasi diri kita untuk berkembang.

Heeem..harapan saya ke depan sih tentunya semoga hari esok selalu menjadi lebih baik dari hari ini. Dan hari kemarin menjadi pelajaran yang berharga untuk kita hari ini.

Terima kasih sudah membaca tulisan saya hari ini ya. Yang mau komen, silakan tinggalkan jejak di kolom komentar. Semoga bisa menghibur kalian semua, syukur-syukur bisa bermanfaat juga.

Toxic Mother

by Ike Dian Puspita

Any negative behaviour that causes emotional damage or contaminates the way a person sees himself or herself, is toxic – Karen Young

Beberapa waktu lalu saya menemukan bahasan soal toxic parent di internet. Merasa tertarik, saya lalu searching mengenai topik ini. Dari frasa katanya, toxic parent, sudah bisa diduga bahwa ini pasti berkaitan dengan pola asuh orangtua yang memberi pengaruh buruk (‘beracun’) pada perkembangan anak. Tidak berbeda jauh dengan toxic parent, toxic mother kurang lebih juga demikian.

Saya tertarik membahas toxic mother ini karena tentu saja berkaitan dengan peran saya sebagai ibu ya kan.

Jadi, bagaimana toxic mother ini sesungguhnya?

***

https://id.theasianparent.com/toxic-parents/amp

Sebelum ke toxic mother, saya akan menyinggung sedikit soal toxic parent.

Perilaku pola asuh yang buruk biasanya akan meninggalkan pengalaman traumatik pada tumbuh kembang anak, terutama secara psikologis. Jangan-jangan kita pun sebenarnya juga memiliki traumatik tertentu mengenai hal ini. Seperti sering dibanding-bandingkan, sering dituntut hal-hal yang mungkin bukan kesukaan kita, kebisaan kita atau bahkan yang mungkin belum kita pahami. Jika dari salah satu indikator tersebut Anda menganggukkan kepala, bisa jadi itu salah satu tanda Anda pernah mendapatkan pengaruh toxic parenting saat tumbuh kembang Anda.

Saya tidak bermaksud ingin mengorek benar atau salah soal pola pengasuhan yang Anda alami atau yang sedang Anda jalani saat ini. Disadari atau tidak pola asuh yang kita terapkan pada anak-anak kita umumnya dipengaruhi oleh pola asuh yang pernah kita alami sebelumnya. Karena menjadi orangtua itu tidak ada sekolahnya, maka kita akan menggunakan sumber pengalaman dan memori kita sebagai anak dalam menerapkan pola asuh kita pada anak-anak.

Nah, orang-orang yang disebut sebagai toxic parent bisa dipastikan pernah mengalami siklus pola asuh yang tidak sehat ini atau memiliki pengalaman disfungsional dalam keluarga sebelumnya sehingga mereka memiliki potensi toxic parenting pada anak-anaknya.

Tahu enggak, kalau luka-luka batin yang terjadi di masa kecil yang tidak mendapatkan penanganan terapi pemulihan, akan mengendap di bawah sadar kita dan bisa muncul ketika dewasa saat pemicu-pemicunya mentrigger emosi kita.

Heeem… dari hasil pencarian saya soal toxic parenting, situasi toxic itu bukan hanya berupa kekerasan fisik maupun mental dalam keluarga. Namun, yang harus lebih diwaspadai adalah pembenaran atas nama cinta. Biasanya orangtua akan berdalih bahwa semua itu karena demi kebaikan anak-anak, atau karena terlalu sayang. Padahal bisa jadi, anak-anak merasa terluka tanpa mampu mengungkapkannya pada orangtua karena merasa sungkan, takut dan merasa bersalah jika marah pada orangtua mereka.

Perlakuan pola asuh yang “beracun” yang berlangsung terus menerus dan berulang, akan berdampak pada psikologis anak. Dia bisa jadi sangat penurut dengan menekan semua hal yang diingkannya. Atau mereka bisa jadi pembangkang dan memberontak terhadap orangtuanya.

Yang lebih miris lagi jika efeknya sampai mengubah anak-anak menjadi “monster yang menakutkan”, sama seperti orantua mereka saat mereka memperlakukan anak-anak mereka kelak.

***

Toxic Mother

https://id.theasianparent.com/toxic-parents/amp

Oke, sekarang soal toxic mother.

Ibu adalah orang yang paling dekat dengan anak-anak, orang pertama yang dikenal dan mengenalkan kasih sayang pada anak-anak. Bayangkan jika ibu menjadi sosok yang toxic (beracun) buat anak-anaknya. Bagaimana kira-kira nanti tumbuh kembang anak-anaknya?

Sayangnya literatur mengenai toxic mother yang saya temui masih banyak ditulis dalam bahasa Inggris. Tapi tak mengapa, karena situasi psikologis umumnya hampir sama.

Hubungan toxic mom ini biasanya sering terjadi antara ibu dan anak perempuannya. Namun tidak menutup kemungkinan juga terjadi pada relasi ibu dan anak laki-lakinya.

Apakah Anda sering …

  1. Mengeluarkan kritik terus menerus pada anak
  2. Mengontrol berlebihan
  3. Memanipulasi dan membuat anak merasa bersalah (Guilt tripping)
  4. Menghina anak dengan candaan dan sindiran
  5. Mengabaikan emosi anak
  6. Bersikap pasif agresif
  7. Kurang menghormati privasi anak
  8. Merasa bahwa pikiran dan perasaan Anda lebih penting dibandingkan apa yang dipikirkan dan dirasakan anak Anda

Ini baru sebagian kecil dari indikator sikap-sikap yang ditunjukkan oleh seorang toxic mom.

Seseorang bisa berubah menjadi toxic mother karena ada hal-hal yang memicunya berbuat seperti itu. Bisa jadi mereka pernah mengalami hubungan pola asuh beracun juga dengan orangtua mereka. Yang melumpuhkan kemampuan mereka dalam mengontrol dan mengendalikan setiap aspek dalam kehidupan mereka.

Orang-orang toxic ini merasa tidak nyaman dengan diri mereka sendiri dan selalu menempatkan kesalahan di luar diri mereka.

Dampak relasi toxic antara ibu dan anak-anaknya akan sangat terlihat pada anak-anak yang minder dan silent comment, karena mereka terbiasa mendapat tekanan atau selalu disalahkan (dipandang salah) oleh ibunya. Atau anak yang memiliki sifat berontak, dia akan mudah berubah menjadi seorang anak yang pemberontak dan melawan kata-kata ibunya.

Tentu hal ini bukanlah hal yang baik, bukan?

Oke, di awal tulisan ini saya mengutip sebuah kalimat, “Any negative behaviour that causes emotional damage or contaminates the way a person sees himself or herself, is toxic”. Artinya, sebuah perlakuan buruk apa pun yang menyebabkan kerusakan emosional atau mempengaruhi cara pandang seseorang mengenai diri mereka sendiri dengan buruk disebut sebagai perilaku yang beracun (toksik). Sementara toxic mother adalah ibu yang memperlakukan anak-anak mereka dengan cara tertentu yang membuat anak-anak merasa ragu bahwa mereka dianggap penting, dianggap berharga keberadaannya, bahwa mereka layak mendapatkan cinta yang tulus dari ibunya.

Jadi, ketika anak-anak berperilaku tidak baik atau beriperilaku tidak semestinya yang kita harapkan, tolong jangan buru-buru untuk menghakimi mereka dengan kemarahan. Bisa jadi, ada pengaruh pengasuhan dari kita yang kurang baik yang melukai perkembangan emosi dan mental mereka.

Anda bisa melihat kembali beberapa indikator yang sudah saya tuliskan sebelumnya. Toxic mother bisa terlihat dalam berbagai bentuk.

Ada yang terlihat secara jelas memperlakukan anaknya dengan buruk, seperti memarahi anaknya dengan berteriak, memarahi anaknya di depan orang lain, dan ada yang terlihat lebih halus. Seperti bersikap pasif agresif, merajuk atau ngambek jika anak-anaknya tidak mau memenuhi dan mematuhi apa yang diminta oleh sang ibu. Apapun itu, semuanya bisa berpotensi untuk melukai emosi psikologis anak.

Nah, gimana? Mulai terbukakah, ibu? Coba perhatikan, apakah ada diantara anak-anak kita yang mulai memperlihatkan tingkah laku tidak ceria di tengah teman-temannya? Atau perilaku yang merugikan teman-temannya?

Perhatikan bagaimana anak Anda bergaul dan bertingkah laku di lingkungannya. Mungkin ini bisa menjadi pintu masuk yang baik untuk mulai memperbaiki, merehabilitasi relasi yang ada diantara ibu dan anak, antara orangtua dan anak.

Tetap jaga semangat dan kesehatan Anda.

Salam

New Normal, New You

by Ike Dian Puspita

Setelah bulan Mei ini berakhir, kita akan mulai dengan “New Normal” life. Menerapkan hidup dengan perilaku baru agar kita tidak perlu lagi merasa takut dan terintimidasi dengan situasi pandemi yang berita-beritanya sering membuat cemas dan berkeringat.

Melawan adalah hal yang alami ketika makhluk hidup dihadapkan pada situasi yang membahayakan dirinya. Begitu pun otak manusia akan switch ke otak reptil secara ketika kita berada di situasi yang sama. Yakni menghindar atau melawan. Lalu setelahnya apakah kita akan terus melawan?

Mungkin saja iya, sampai sumber kekacauan itu menghilang. Namun,beberapa hal tidak bisa hilang begitu saja. Bisa jadi sumber penyakit malah selalu bermutasi sesuai dengan kondisi yang ada agar mereka (virus Covid 19) ini tetap survive. Bisa juga gitu kan? Setiap entitas di muka bumi ini dibekali kemampuan untuk mempertahankan diri.

Seorang guru saya menulis, ada penyakit yang tak bisa disembuhkan. Ada juga penyakit yang datang tanpa kita tahu pasti sebabnya. Ada juga penyakit yang bersarang walau bukan karena salah (gaya hidup) kita, dan Covid-19 termasuk geng yang ini.

Memilih opsi untuk melawan adalah pilihan yang tegas namun sekaligus membutuhkan energi yang banyak dan pengorbanan yang tidak sedikit pula.

Ada saatnya kita perlu mengambil langkah lain yang bisa memberikan win win solution. Karena persoalan sehat bukan hanya sehat fisik tapi juga perlu sehat secara mental. Untuk sehat secara mental, maka pikiran dan hati perlu dijauhkan dari hal-hal negatif. Maka kita perlu mengubah…

Moda Red Code to Yellow Code

Yellow code berarti melonggarkan batasan-batasan tertentu dengan tetap memperhatikan poin penting dan krusial untuk keselamatan.

Yellow code ini yang akan jadi kehidupan normal kita yang baru. Kita akan mulai berani beraktivitas di luar rumah meski tahu Covid-19 masih merajalela di luar sana. Dengan syarat kita juga menerapkan perilaku baru dengan benar. Bermasker dengan benar, mencuci tangan dengan benar, menjaga jarak dengan penuh kesadaran ketika berada di tempat umum.

Yellow code berarti menancapkan bendera putih sementara. Mengambil ruang untuk berjarak dengan ketegangan dan mengusahakan perdamaian.

Berdamai dan Menciptakan Keseimbangan Baru

Flu, demam berdarah, malaria, lupus adalah penyakit-penyakit yang sampai sekarang pun belum sepenuhnya hilang. Dan mungkin masih banyak penyakit lain yang juga tidak sepenuhnya bisa hilang. Demikian pun obat untuk Covid-19 masih membutuhkan perjalanan panjang agar bisa ditemukan dan digunakan oleh manusia.

Namun selama kita menunggu itu terwujud, apakah kita tidak bisa memiliki kehidupan yang normal lagi?

Pikirkan kembali…

Hidup kita masih bisa normal kembali kok. Hidup normal yang baru.

Harapan selalu ada di setiap kesesakan. Pelangi dan matahari masih akan muncul setelah badai besar melanda. Dengan keyakinan ini kita bisa mulai membangun semangat baru untuk hidup berdamai dengan Covid-19.

Berdamai bukan berarti kalah. Berdamai bukan berarti lemah. Berdamai berarti menciptakan keseimbangan yang baru. Bukankah mereka yang mampu berdamai akan merasakan kedamaian itu sendiri? Tidak cemas, khawatir apalagi waswas.

Di hati yang damai dan tenang akan terlihat titik harapan. Dalam situasi yang tenang, pikiran kita akan tertata, imunitas meningkat, solusi akan muncul, dan kita akan tahu kemana seharusnya kita mesti melangkah. Sampai akhirnya kita bisa menemukan kalau…

The New Normal is The New You

Berbicara mengenai yang ini, tentu lebih berkaitan dengan revolusi diri pribadi. Kemaren-kemaren, mau tidak mau, suka atau tidak suka kita “dipaksa”-terpaksa untuk melakukan WFH (work from home) atau SFH (study from home)

Sekarang..kita sudah mulai terbiasa dan terlatih untuk tetap bergerak dalam keterbatasan.

Kita menemukan bahwa hasrat dan karsa manusia tidak akan mati begitu saja ketika sumber daya di sekitar mereka dicabut. Semangat untuk bangkit dan berjuang menjadi semangat untuk bangkit dan berjuang bersama.

Jadi, saya pun akan mulai membuka lembar new normal life versi saya di awal Juni mendatang.

Anak-anak juga akan mulai menjalani new normal mereka sebagai homeschooler. Suami pun sudah mulai lebih banyak menggarap proyek-proyek kreatifnya. Sementara saya, terus memperbanyak aktivitas menulis, melakukan proyek natural living, dan merakit proyek home education bersama anak-anak.

Dan 80% kegiatan itu akan kami lakukan dari rumah. 20% nya beberapa pekerjaan masih harus kami lakukan di luar rumah. Seperti saya yang masih terlibat aktif sebagai panitia persiapan pemilu daerah, perlu menyiapkan strategi-strategi tersendiri agar kegiatan New normal keluarga maupun personal berjalan baik.

Strategi jelasnya seperti apa saya belum tahu hehe.. Setidaknya, sudah ada gambaran rencana besarnya. Prakteknya tentu akan menyesuaikan kondisi di lapangan.

Terdengar seru, bukan?

Saya berharap kalian juga sudah menemukan New Normal versi Anda sendiri.

Selamat atas New Normal Anda!

Merdeka Belajar, Belajar dengan Merdeka…

by Ike Dian Puspita

Situasi pandemi corona menjadi momen pijakan penting bagi kami sekeluarga untuk memulai hidup dan belajar dengan merdeka. Belajar bukan lagi sekedar dilihat sebagai usaha untuk memasukkan pengetahuan tapi kegiatan yang harus bisa mengeluarkan potensi dari individu-individu pembelajar.

Proses yang selama ini mungkin tidak pernah saya lakukan dan alami. Karena selama 17 tahun saya mengenyam pendidikan formal, proses yang saya jalani adalah mengkonsumsi pengetahuan yang diberikan, bukan aktif memproduksi dan memproses pengetahuan.

Dampak yang saya rasakan sampai sekarang adalah terperangkapnya diri saya, terutama mindset, pada situasi yang menempatkan diri saya sebagai obyek penderita. Memposisikan diri saya sebagai pihak yang pasif menerima. Tanpa tahu dan sadar perlu ada ruang buat saya memproses apa yang sudah saya dapatkan. Sehingga bisa benar-benar tepat sasaran dan tepat guna bagi kehidupan saya.

Merasa salah jurusan ketika kuliah, merasa tidak berdaya di pelajaran tertentu dan merasa tertekan harus mendapatkan nilai yang tinggi merupakan perasaan-perasaan yang akrab selama 17 tahun sekolah. Seolah kendali ada di luar diri saya. Jika saya tidak bisa memenuhi standar parameter yang telah ditetapkan, maka saya akan merasa gagal dan “mati”.

Namun demikian, saya sangat bersyukur sekarang. Semua pengalaman itu bisa menjadi modal dasar saya dalam menemukan oase yang sesungguhnya. Walau panjang dan berliku jalannya.

Bersama anak-anak saya dan suami, saya bersuka cita meleburkan diri dalam semangat baru ini. Semangat untuk Merdeka Belajar dan Belajar dengan Merdeka… Perjalanan jatuh bangun yang membawa harapan bagi anak-anak saya, generasi yang akan mendiami dunia baru yang bukan dunia saya. Yang setidaknya membuat saya mampu menatap mereka dengan sedikit kebanggaan diri.

Semua saya simpan dan tuliskan di blog www.merdekabelajarike.wordpress.com

Semoga menjadi celah..

Semoga menjadi suluh..

Start My Mom Blog

by Ike Dian Puspita

dok.pribadi

“Mulai aja dulu!”

Slogan yang paling sering saya gunakan untuk memotivasi saya ketika hendak melakukan suatu hal yang baru. Ya, mulai aja dulu, nanti belajar sambil jalan, sambil praktek langsung.

Memulai sesuatu yang baru itu tantangannya adalah men-challenge diri sendiri untuk berani memulai. Betul enggak? Hehehe…

Seperti menulis blog. Blog masih jadi idola buat banyak orang. Setiap waktu bermunculan blogger-blogger newbie. Atau para blogger lama yang jarang up date tapi sekarang mulai aktif lagi. Kira-kira kamu masuk tim yang mana? Hahahaa..

Saya sih masuk tim yang kedua, hihi.. J

Saya sudah berkali-kali punya blog. Dari mulai jaman Multiply masih main sampe keluar masuk platform Blogger dan WordPress. Dan sekarang saya sedikit menyesal sudah menghapus blog-blog lama saya, yang menyimpan rekam jejak tahap per tahap kematangan hidup saya.

Ya sudah, sekarang harus cukup bahagia dengan dua blog wordpress yang saya bangun sekarang.

You know what? Membangun blog itu bikin nagih. Terbukti saya tetap enjoy bongkar bangun blog saya sejak mulai kuliah sampe beranak pinak.

Blog itu…

  • Bertumbuh

Blog itu layaknya kita yang sedang bertumbuh dan tersimpan dalam memori dunia maya. Blog bisa menyesuaikan tahap proses kehidupan personal kita. Kita yang menciptakan dunia blog yang kita inginkan. Apakah untuk tujuan proyek komersial atau proyek idealisme. Kita mentransfer sebagian memori kita pada laman virtual yang mungkin suatu hari bisa berguna bagi diri kita sendiri maupun orang lain.

  • Media terapi

Menulislah maka kamu akan menemukan solusi dalam hidupmu. Menulis blog seperti menemukan oase di dalam diri. Ia membantu kita meringankan memori software kita, yakni otak dan hati kita. Kalau hape kita penuh memorinya pasti bakalan sering nge-hang dan lemot kan, begitu juga dengan kita. Peristiwa hidup yang masuk dalam diri kita tidak selamanya bahagia. Seringkali duka dan emosi negative yang lain mendominasi atau mengambil alih sementara hidup kita.

Menulis di blog membantu kita keluar dari kesesakan hidup yang mendera.membantu merapikan kembali kotak-kotak penyimpanan di dalam diri kita hingga menjadi lebih tertata, jernih, dan waras.

  • Membangun “New Normal”

Lagi trending nih topik-topik tentang new normal life. Setelah pandemic, kita memasuki transisi budaya kehidupan yang baru dengan lebih cepat. Yang sebelumnya hanya bisa kita bayangkan untuk waktu yang entah kapan akan segera terwujud dalam kehidupan nyata. Seperti bekerja dari rumah, belajar dari rumah, respon terhadap kebiasaan hidup sehat yang lebih meningkat. Bahkan menggeser tatanan perekonomian dan informasi kita menjadi lebih terkoneksi dengan teknologi.

Blog bisa menjadi jembatan kita untuk memahami situasi yang berubah dengan cepat ini. Memberi ruang agar kita mampu meng-adjust diri kita untuk membangun new normal life milik kita sendiri.

Itu sih yang membuat saya masih bertahan dan tidak menyerah untuk ngeblog. Ngeblog itu seperti membuat perjalananmu sendiri. Yang bisa kamu penuhi dengan pilihan-pilihan menu favoritmu tanpa harus mengganggu atau terganggu dengan menu pilihan orang lain. Yang bisa membuat dirimu semakin kenal siapa dirimu yang sesungguhnya.

Makanya, saya tetap memulai blog saya meski tertatih…

I start my mom blog with all expansion of heart and soul…

The World of The Married

by Ike Dian Puspita

Ini nih drakor paling fenomenal tahun ini. Tema tentang konflik rumah tangga memang selalu menarik. Apalagi soal pelakor, waaah.. langsung booming deh.

Ya karena memang enggak jauh-jauh amat dari situasi konflik keluarga di dunia nyata. Masih segar di ingatan saya maraknya kasus pelakor yang viral di medsos sepanjang tahun 2018-2019. Drama korea berhasil menangkap keresahan situasi ini secara detil.

Jalan cerita yang penuh kejutan berhasil bikin nagih para penontonnya yang sebagian besar pastinya perempuan. Tak heran kalau di negeranya sendiri, drama ini berhasil menduduki ranking rating tertinggi drama televisi Korea.

Ji Sun Woo merasa hidupnya sempurna sebelum dia menemukan bahwa ternyata suaminya telah tidak setia kepadanya. Pengkhianatan Lee Tae Oh sang suami yang akhirnya diketahui oleh Ji Sun Woo memutarbalikkan jagad pernikahan bahagia mereka. Menariknya, tokoh pelakor disini digambarkan lebih manusiawi dan sangat natural dibandingkan kisah-kisah pelakor dalam sinetron Indonesia.

Kita bisa merasakan apa yang dipikirkan dan dirasakan oleh para tokoh-tokohnya tanpa bumbu-bumbu yang berlebihan. Bahkan kita akan bisa berpikir bagaimana kalau kita menjadi salah satu dari mereka. Kita merasa terlibat dengan alur ceritanya yang sangat dekat dengan persoalan rumah tangga sehari-hari. Justru disitulah kekuatan cerita drama korea ini. Keterikatan emosi inilah yang mampu mengaduk-aduk perasaan dan pemikiran para penonton, termasuk penonton Indonesia.

Enggak heran deh kalau sampai-sampai instagramnya Han Soo Hee (pemeran Da Kyung sang pelakor) langsung diserbu netizen Indonesia yang marah-marah gegara terbawa emosi dalam cerita.

Saya akui drama ini juga mengaduk-aduk perasaan saya sebagai perempuan. Gemes, geram, geregetan, sedih, deg deg-an..campur aduk deh. Keren deh pokoknya. Saya sangat memahami apa yang dirasakan Ji Sun Woo. Sakitnya tuh disini kan yah..hehe

Ya iyalah..istri itu punya insting alami loh untuk tahu kalau pasangannya berselingkuh atau tidak. Heeem..#ngelus dada hahahaa..

Dan saya suka karakter Ji Sun Woo yang tegar dan tangguh. Dia adalah karakter perempuan yang kuat dan berkarakter. Saya suka perempuan yang kuat hatinya, hehe..

Tapi saya juga sangat memahami karakter Lee Tae Oh dan Da Kyung sendiri. Persoalannya amat pelik. Mereka terjebak atau mungkin tepatnya membiarkan diri mereka terjebak dalam situasi rumit kala diri ini tak mampu memegang kendali atas diri mereka masing-masing. Manusia kadang kan suka tuh coba-coba. Ya boleh lah dikiiit… Lama-lama jadi sakiiiit… aaiiih.. Manusiawi banget kan.

Lee Tae Oh adalah karakter suami yang dilihat kurang berhasil dari sang istri. Dari sisi psikologis seorang suami tentu saja hal ini menggores sedikit harga diri seorang laki-laki. Makan, minum dan segala kebutuhan rumah tangga didapat dari penghasilan istrinya. Padahal seharusnya kan itu kewajiban seorang suami untuk mencukupinya. Dari ini saja sudah bisa ditebak kemana arah sakit hati itu mencari pelampiasan. Kebetulan saja Da Kyung ada disana. Seorang anak perempuan dari keluarga kaya raya, masih muda dan cantik, dan masih lugu tentang percintaan. Ya dan seterusnya kita tahu cerita apa yang tejadi. Perselingkuhan diantara mereka dan penderitaan istri yang diselingkuhi.

Setelah sadar diri mereka tidak bisa keluar dengan mudah dari situasi itu, mulai banyak excuse-excuse yang mereka ciptakan. Ya udah deh akhirnya jadi benang kusut. Karena ego yang kuat, masing-masing terlambat untuk mengambil langkah-langkah penyelamatan.

Hwuuaaa..tarik napas dulu hahahaa…

Anyway, drama ini sangat layak untuk terus dinikmati. Bukan hanya fokus pada persoalan perselingkuhan saja yang ditampilkan, tapi dibalik itu ada banyak makna yang mau disampaikan ke penonton. Tentang keluarga, tentang relationship, tentang profesionalisme, tentang personality, tentang persahabatan, dan banyak lagi. Tanpa harus mendikte penonton. Kita bebas memilih makna. Itu yang saya suka dari drama-drama korea.

Heeem.. gitu deh. Semoga film-film dan sinetron kita pun bisa memiliki value yang lebih dari sekedar intertainment.

Someday…saya yakin suatu saat kita juga bisa bikin yang luar biasa seperti mereka 🙂

Kamsahamnida

Berdamai dengan Emosi Ibu

by Ike Dian Puspita

Ilustrasi ©pixabay

Berdamai artinya bisa menerima…

Beberapa waktu lalu saya tertarik ikutan kelas online dengan tema ini, “Berdamai dengan emosi ibu”. Seolah semesta tahu apa yang sedang saya butuhkan sekarang.

Bertemu dengan teman-teman yang memiliki persoalan yang hampir sama membuat saya merasa tidak sendirian. Ternyata itu problem kebanyakan seorang ibu, mungkin juga ayah. Masalahnya ibu adalah sosok yang paling dekat dengan anak dan yang pertama bersentuhan langsung dengan kondisi rumah, mau tidak mau ibu lebih sering terpapar hal-hal yang seringkali menguji kesabarannya.

Dan saya menyadari hal itu…

Tidak baik kalau emosi yang tertahan atau bahkan yang meluap-luap tidak ditangani dengan semestinya. Keseimbangan hidup ibu pun akan terganggu.

Ilustrasi ©pixabay

Pernah dengar atau baca kan ya pepatah “Happy Mom, Happy Kids, Happy Family”. Itu bener banget deh… Kalau diri kita sendiri enggak happy, belum bisa menerima diri kita sendiri secara utuh, baik sisi positif dan sisi negatif kita, mustahil rasanya kita bisa menciptakan lingkungan yang bahagia di luar lingkaran diri kita.

Trus gimana caranya dong biar bisa berdamai dengan diri kita?

Ini beberapa hal yang coba saya rangkum dari hasil belajar online saya, mungkin bisa memberikan sedikit pencerahan.

  1. Menerima bahwa diri kita ini tidak sempurna

Ada saat dimana sebagai ibu, saya ingin semuanya sempurna. Rumah yang bersih tertata, anak-anak yang manis dan penurut, suami yang baik dan setia, juga finansial yang tidak berkekurangan.

What a perfect life!” ya kan..

Tapi kenyataan tidak pernah semanis mimpi. Realitas seringkali tak pernah akur dengan Idealisme. Jadi yang perlu saya lakukan adalah bangun dari mimpi. Saya harus menyadari bahwa yang bisa kita lakukan hanyalah mendekati impian itu, bukan hidup didalamnya. Seperti kita tahu bahwa tidak ada yang sempurna selain Tuhan saja. Jadi kita ini ya pastinya tidak sempurna. Kalau kita merasa di salah satu sisi hidup kita itu sempurna, some how ada sisi lain, bagian diri kita yang lain tidak akan sempurna.

Misalnya aja ketika saya memutuskan untuk bekerja di luar rumah dengan berbagai alasan, saya tidak bisa secara penuh memantau dan menghandle kondisi rumah dan anak-anak. Atau ketika saya memutuskan untuk stay di rumah aja bareng anak-anak, saya pun tidak bisa berharap mampu membantu keuangan keluarga seperti halnya ketika saya bekerja di luar rumah.

Even jika saya punya bisnis dari rumah, dikerjakan di rumah sendiri, tentu saya juga butuh ruang untuk bisa mengerjakan bisnis saya tanpa harus diganggu anak-anak atau pekerjaan rumah, bukan?

Atau sebagai ibu rumah tangga saja, saya juga tidak bisa 100 persen bisa melakukan semua hal dengan baik dan melayani semua kepentingan anggota keluarga dengan sempurna. Pasti ada bagian diri saya yang lain menuntut untuk juga diperhatikan.

So, I’m not a perfect mom, because I’m not a perfect man.

Saya harus menerima itu, dan saya harus memahaminya. Tidak ada yang sempurna di dunia ini.

Kalau saya sudah bisa menerima diri saya apa adanya, maka saya bisa…

2. Menerima bahwa setiap manusia adalah unik

Setiap manusia memiliki keunikan mereka masing-masing. Begitu juga dengan anak-anak, suami dan anggota keluarga yang lain.

Anak-anak bukanlah miniatur dari saya dan suami. Namun mereka adalah sosok pribadi-pribadi manusia yang baru. Yang membawa kekurangan dan kelebihan mereka sendiri.

Sebagai orangtua, saya perlu menghormati hal tersebut. Apalagi pola pikir mereka pun belum bisa disamakan dengan pola pikir kita yang dewasa. Kita lah yang perlu turun menyelami pemikiran mereka. Memposisikan diri kita sejajar dengan mereka. Karena memang belum waktunya bagi mereka untuk bisa kita ajak bertukar pikiran layaknya orang dewasa.

Yang bisa kita lakukan adalah mengajak mereka berdiskusi dengan bahasa yang mereka pahami, yakni bahasa anak-anak.

Namun tentu saja usaha ini adalah perjuangan orangtua yang tiada hentinya. Berjuang untuk terus memahami mereka. Belajar untuk terus menjadi orangtua yang bisa mereka andalkan dalam kehidupan.

Karenanya saya perlu…

3. Menerima diri berarti menemukan bahwa diri kita berharga (Self Worth & Self Acceptance)

Bagaimana kita bisa mengatakan bahwa anak-anak adalah sesuatu yang sangat berharga bagi kita orangtua jika kita sendiri belum menyadari bahwa diri kita ini juga berharga?

Pertanyaan yang filosofis memang.. tapi terdengar benar di telinga saya.

Berdamai dengan emosi diri sendiri itu berarti terjadi proses menerima..menerima keadaan diri sendiri. Menerima proses emosi yang sedang terjadi di dalam diri sendiri.

Mentor self development saya pernah mengajarkan bahwa untuk memahami emosi yang muncul perlu ditelusuri penyebabnya. Apa sebenarnya yang memicu munculnya emosi marah atau kecewa dalam diri saya.

Perlu kejujuran untuk bisa menjawabnya.

Biasanya saya akan melontarkan pertanyaan-pertanyaan semacam ini, Benarkah ini yang membuat saya marah? Benarkah ini yang benar-benar membuat diri saya kecewa? Lalu kenapa saya harus marah? Atau kenapa saya harus merasa kecewa?

Kita perlu jujur pada emosi yang sedang kita rasakan saat itu.

Nah, ini nih yang terkadang susah banget untuk diakui oleh perempuan hehe… Terutama perempuan jawa seperti saya. Karena dari kecil lingkungan kita tidak membiarkan perempuan leluasa mengeluarkan pendapat tentang diri dan pemikirannya.

Perempuan seolah dituntut untuk “diam”dan manut (patuh). Marah pun mereka marah dalam diam, ngambek, dan disimpan dalam hati.

Padahal ya bu, itu tuh bikin sesak napas kan ya kalau lama-lama dipendam..

Makanya, secara naluri perempuan itu akan lebih sulit untuk bisa memahami emosinya sendiri secara terbuka.

Kesehatan Jiwa

Proses menerima diri ini terkait dengan kesehatan jiwa loh bu. Ibu-ibu perlu menyadari bahwa kesehatan jiwa itu bukan cuma terkait dengan depresi, stress dan gangguan kejiwaan.

Menurut WHO (2014), kesehatan jiwa adalah kondisi dimana individu mampu mengenali potensi dirinya, dapat mengatasi tekanan/stress yang ditemui sehari-hari, dapat bekerja secara produktif, dan berkontribusi untuk komunitasnya.

Jadi lebih luas ya pengertiannya. Seperti mengenali potensi diri itu ternyata salah satu indikator kesehatan jiwa juga.

Nah, emosi-emosi negatif yang dirasakan ibu itu bisa mempengaruhi kesehatan jiwa ibu.

Jika kita menyadari bahwa hidup ini layaknya mengendarai sebuah kapal kecil di tengah lautan menuju pulau impian kita. Ada kalanya di tengah perjalanan badai mengombang-ambingkan kapal kita, ada kalanya pula kita mengarungi laut yang tenang dan damai.

Yang bisa kita lakukan adalah bagaimana kita bisa mengendalikan kapal kita agar tetap bisa berjalan sampai ke negeri impian kita dengan selamat.

Tahukah ibu, bahwa dalam sebuah kapal pasti ada jangkarnya. Jangkar inilah yang bisa menyelamatkan kapal dari terjangan badai yang melanda.

Jangkar dalam kehidupan kita itu adalah kekuatan diri kita sendiri, ibu.

Kekuatan inilah yang akan menemani kita untuk senantiasa bertahan menghadapi segala rintangan hidup. Kekuatan ini berupa penerimaan diri. Menerima dengan ikhlas apa yang terjadi pada diri kita. Menerima bukan berarti lemah, namun adalah bentuk kekuatan diri yang kita miliki.

Menurut Shepard (1979), penerimaan diri biasanya dicapai ketika seseorang berhenti mengkritik kekurangan di dalam diri dan menerima bahwa diri ini tidak sempurna serta menyadari kelebihan yang dimiliki.

Seseorang yang mampu menerima diri sendiri dengan baik, memiliki penyesuaian diri dan penyesuaian sosial yang baik (Hurlock, 1974).

Penyesuaian diri itu antara lain memiliki keyakinan dan kepercayaan diri, tahu kelebihan dan kekurangan yang dimiliki, dan mampu mengeluarkan potensi dengan maksimal.

Sementara penyesuaian sosial antara lain adalah mampu merasa nyaman ketika menerima orang lain, mampu memberikan perhatian pada orang lain, dan mampu berempati pada orang lain.

Proses ini akan membawa kita pada proses selanjutnya yakni kemampuan untuk menemukan bahwa diri kita adalah pribadi yang berharga (Self Worth).

Self Acceptance          ——->                Self Worth

Self worth sendiri adalah pengetahuan yang mendalam bahwa diri kita ini bernilai, pantas dicintai, dan diperlukan dalam kehidupan (Sehati Jiwa). Masing-masing dari kita memiliki peran yang penting dan sebaik-baiknya di alam semesta ini. Jadi jangan abaikan proses ini.

Self worth ini bermanfaat membantu untuk memahami keunikan diri kita, mendorong dan memotivasi kita untuk mencoba hal-hal yang baru, bahkan membantu kita mampu untuk melalui hal-hal yang sulit. Tidak mudah menyerah begitu saja. Jika gagal dan jatuh maka kita akan mampu bangkit kembali.

*

Nah, jadi gitu ya bu. Jangan mau berlama-lama marah dan kecewa. Jangan mau memendamnya terus menerus. Temukan teman atau sahabat yang mau berbagi duka juga, bukan hanya sukanya saja J

Jika kita menemukan diri kita butuh pertolongan yang lebih mendalam, jangan ragu untuk mencari orang-orang yang ahli atau tenaga profesional di bidangnya.

Karena dirimu, diri kita ini berharga J

Ibu berhak bahagia…