#Day 3 : Just 15 Minutes!

[ikedianpuspita.com] Oke, postingan kali ini sedikit berat. Hehe.. Ya, soalnya ini terkait dengan rutinitas beberesan di dunia per-emak-an [duh, istilah apa lagi itu..]

Saya lagi nyoba teknik pomodoro yang 25 menitan itu. Tapi buat saya kok itu kelamaan yah hahaa.. Gak betahan saya orangnya. Lagian masih seabrek gawean lain menunggu.

Jadi, saya bikin 15 menitan aja. 15 menit untuk membersihkan, 15 menit untuk membereskan, 5 menit istirahat [gak nyampe deh kayaknya..] lanjut 15 menit lagi mengerjakan yang lain, seperti memasak. Ya yang simple-simpel aja. Pokoknya selalu berusaha menyelesaikan semuanya dalam 15 menit dan lanjut ke hal lain lagi.

Kenapa cuma 15 menit aja? Ya, karena alasannya seperti tadi, kalau kelamaan biasanya saya justru tergoda untuk tidak menyelesaikannya sama sekali. Lah daripada gitu kan, mending langsung diselesaikan saja segera atau tidak sama sekali.

Lebih Mudah Membangun Kebiasaan

Buat saya, melakukan aktivitas yang sama dan berulang dalam waktu singkat terasa lebih mudah dan lebih menyenangkan untuk dijadikan sebuah kebiasaan (habit).

Tahu sendiri kan, memulai kebiasaan baru itu tantangannya luar biasa. Berat di awal untuk mengalahkan penundaan-penundaan dan penyangkalan diri. Heeuuu.. seringnya nyari-nyari alasan aja untuk memaklumi kondisi kita yang “masih belajar” untuk konsisten, rrrrhh..

Bener juga sih yang dikatakan James Clear, sang pencetus Atomic Habit, bahwa semakin mudah dan sederhana rutinitas baik/produktif kamu lakukan, maka akan semakin nyaman dan cepat hal itu bisa berubah menjadi kebiasaan baik (good habit). Kalau kita sudah nyaman melakukannya, lama-lama akan terjadi begitu saja secara otomastis tanpa usaha yang besar untuk memulainya.

Heeem…masalahnya setiap orang tentu berbeda kemampuannya. Teknik 15 menitan ini mungkin cocok buat saya, tapi belum tentu buat teman-teman yang lain. So, coba kenali dirimu lebih baik lagi. Kira-kira kamu lebih nyaman melakukannya dalam 15 menit atau 25 menit atau mungkin cukup 10 menit aja? You know better..

Kuncinya, kita nyaman melakukannya dengan cara kita.

Kesimpulan

  • Kenali pencetus semangatmu ketika sedang produktif
  • Gunakan itu sebagai jalan masuk untuk membangun pola habit baru yang lebih baik

Misalnya nih, pencetus semangat saya buat produktif itu saatnya saya bangun lebih pagi, minum air putih, bikin kopi, buka laptop. Abis itu, langsung tentukan kegiatan yang mau saya lakukan dalam 15 menit. Pasang alarm. Lakukan dan patuhi waktu yang sudah ditentukan. Ulangi lagi.

Gitu seterusnya. Jangan takut gagal. Ulangi lagi sampai kamu merasa, “Oh,oke, ternyata saya bisa. Dan cukuplah buat hari ini”. Besok lagi, hihihiii…

Kalau kalian merasa terinspirasi, boleh kok pakai tips saya. Atau bisa modifikasi dengan gaya kamu sendiri, yang paling nyaman buat kamu. Yuk, sama-sama kita ya… (tos)

#Day 2 : Bangun Lebih Pagi

[ikedianpuspita.com] Sebenarnya enggak ada yang istimewa dengan bangun pagi. Tapi ada pengalaman menarik yang saya alami terkait bangun pagi.

Saya punya kebiasaan bangun siang. Semenjak menjadi seorang ibu, saya kira saya akan tetap bisa menikmati bangun siang karena saya memilih untuk stay at home. Tidak ada jadwal masuk kantor atau jadwal rutinitas pagi yang perlu saya lakukan seperti saat masih kuliah. Ternyata enggak bisa gitu, fren. Tetep aja, kita kudu bangun pagi kalau enggak pengen pekerjaan rumah menumpuk dan susah ditaklukkan. Hehe..sepertinya enggak perlu dicontoh ya kaan.

Apalagi sejak punya bayi, saya semakin kewalahan menangani semua hal di rumah.

Bangun siang ternyata malah bikin saya lebih bête dari sebelumnya. Maklum, waktu itu masih new mom. Saya masih butuh penyesuaian rutinitas sejak punya anak pertama. Beda sewaktu hamil pertama dulu. Yang perlu diurus dan diperhatikan cuma suami, yang notabene udah cukup dewasa untuk mandiri, bisa ngapa-ngapain sendiri wkwkwk… Paling cuma sediain kopi anget dan sarapan pagi seadanya. Masak juga cuma buat berdua. Enggak terlalu banyak. Kalau lagi malas masak, ya beli makan di luar. Simple…

Tapi sejak punya anak, hal seperti itu enggak mungkin saya lakuin lagi. Sebab sudah ada anak yang perlu diurusin keperluannya, dari mulai mereka bangun tidur sampai mau tidur lagi. Disinilah tantangan seorang ibu sesungguhnya teruji.

Belajar Bangun Pagi

Setelah merasakan kekacauan berulangkali gegara bangun siang. Mulai deh saya ubah strategi. Keki juga kan ya, liat tetangga pagi-pagi udah bisa santai cantik di depan rumah. Sementara saya waktu itu masih enggak berhenti beberesan sampe malem. Padahal masih harus masak, mandiin bocah, nyiapin makan malam suami. Hhuaaahhh…duh pokoknya, saya jadi scary mommy deh waktu itu.

Oke, perubahan enggak terjadi begitu aja. Saya mulai mengatur ulang alarm bangun pagi semakin hari semakin pagi. Sampai akhirnya saya mendapatkan waktu bangun pagi yang pas dan nyaman untuk saya memulai aktivitas setiap harinya.

Dan proses menuju kesana nyatanya tidak mudah. Berkali-kali gagal dan mencoba terus dari titik nol. Trigernya adalah ketika saya mulai mengikuti kelas-kelas online pengembangan diri. Karena masih sangat awam dengan materi self development, saya berusaha sangat keras untuk mempelajarinya. Dorongan kuat untuk membuat diri lebih baik lagi dan lebih baik lagi membuat saya tidak mudah patah semangat. Anaklah yang menguatkan niat saya untuk tumbuh dan berkembang menjadi pribadi yang terbaik versi saya. Supaya mereka pun bisa menemukan pembelajaran itu dalam diri saya.

Selesai Lebih Awal dan Mudah Bersyukur

Seiring berjalannya waktu, saya mulai tertarik mengembangkan keterampilan tulis menulis. Yang saya rasa cocok banget dengan situasi dan kondisi pilihan saya sebagai stay at home mom. Yes, why not? Jadi, dengan mengumpulkan keberanian, saya memulai perjalanan saya di dunia tulis menulis.

Sejak saat itu, kegiatan bangun pagi saya tidak hanya untuk menyelesaikan pekerjaan rumah, namun juga untuk belajar banyak hal dan mengembangkan keterampilan menulis.

Bangun lebih pagi menjadi aktivitas paling saya sukai. Karena saat itulah saya memiliki kesempatan untuk menikmati waktu spesial dan personal untuk diri sendiri tanpa terganggu anak-anak atau pekerjaan rumah, hehe..

Oke, bagian terbaiknya adalah, saya bisa mengerjakan tugas-tugas rumah selesai lebih awal, menyiapkan anak-anak sekolah lebih baik dan merencanakan hari dengan lebih terstruktur. Kalau sudah begini, perasaan menjadi lebih tenang dan ringan. Penting loh untuk membuat diri kita merasa bahagia dengan hal-hal sederhana semacam ini. Agar ibu tidak mudah stress dan membantu ibu lebih mudah bersyukur di setiap hari-harinya.

Peluk hangat buat semua mommy di Indonesia. Happy mom, happy family.

#Day 1 : Take Your Time

[ikedianpuspita.com] Mengerjakan tugas rumahan itu serasa gak ada habisnya. Baru sebentar diberesin..eh dah berantakan lagi. Baru nengok sebentar aja, eeh…tumpukan setrikaan dah berubah jadi wahana. Hadeeew…buneee! [panggilan ibu di jawa] Pie ikiii…?!!

Eitdaaah.. menikmati situasi aman, tenang dan rapi sewaktu masih punya krucil-krucil lucuk gitu cuma lewat doang..

Hehe, akhirnya saya banyak ngilmu dan belajar pada mentor-mentor personal development untuk ngebantu menemukan “diri” kembali.

Suka Jadi Pusat Perhatian

Setelah sekian lama memikirkan dan memberikan diri untuk orang lain di luar diri sendiri, maka saatnya saya untuk duduk diam. Fokus pada diri sendiri, memikirkan apa yang sebenarnya ingin saya pikirkan, lakukan dan ingin saya cintai dengan sungguh-sungguh.

Kembali melihat diri ini.. menyadarinya.. memahami betapa berharganya pula diri ini.

Iya, kadang-kadang saya gak sadar kalo saya sudah terlalu memaksakan diri. Hanya demi sesuatu yang sering dibanggakan di lingkungan motherhood, “menjadi ibu yang sempurna”.

Eehm…sebenarnya ini cukup mengganggu juga sih.. Cukup mengganggu dalam arti mempengaruhi penilaian kita terhadap diri sendiri. Dan sudah nature-nya kita ini umumnya suka menjadi pusat perhatian. Menjadi yang terbaik, menjadi yang paling bagus, paling cantik, paling pintar, dan paling paling lainnya.

Makanya, sebisa mungkin, dan sekuat mungkin mengusahakan diri ini memenuhi “label” yang diciptakan lingkungan sosial itu sendiri. Hasilnya kadang-kadang bikin capek diri sendiri. Bikin capek hati dan pikiran kita. Padahal mungkin orang lain tidak peduli apa yang kita rasakan dan bagaimana kita harus menangani hal itu.

Take Your Time

Oke… mari kita coba tinggalkan keriuhan tadi sejenak. Just take a breath.. release.. and take your time..

Rasakan cinta di dalam diri kita. Berikan senyuman dan kata-kata “selamat” pada diri kita sendiri. Good job, momi! Good job..

Setelah cinta terpenuhi di dalam diri, maka kita akan mulai bisa melihat rencana, impian dan cita-cita untuk kita sendiri dan orang-orang yang kita cintai. Inilah saatnya kita menuliskan 100 impian yang ingin kita lakukan, 100 impian untuk orang-orang yang juga kita cintai.

Merencanakan kembali hidup yang ingin kita jalani hari ini dan kemudian hari. Membuat agenda kecil untuk setiap impian yang ingin diraih.

Kesimpulan

Saya sudah menjadikan aktivitas ini sebagai rutinitas pagi sebelum melakukan semua aktivitas dan “tugas negara”. Dan rasanya beneran plong dan optimis. Saya merasa bisa pegang kendali hari itu. Nah, ini penting banget buat saya untuk merasa bahwa apa yang terjadi hari itu masih dalam kendali. Jadi saya enggak akan merasa kewalahan seharian. Itu penting buat momi ya kaan.. 🙂

Merasa positif di awal hari adalah pertanda baik yang memantik kita lebih produktif di hari itu. Hehe.. gitu sih kalo saya 🙂

Baiklah, terima kasih sudah bertahan membaca artikel ini sampai akhir ya. Boleh banget dishare atau disimpan buat dibaca-baca lagi. Semoga bermanfaat!

Be positif, be you..

7 Days Challenge For Productive Mom

[ikedianpuspita.com] Sebenarnya ini challenge ala-ala saya. Setelah beberapa kali ikut kelas online personal development dan mempraktekkannya dengan “berat” berkali-kali, hahahaa.. iya, berkali-kali karena selalu gagal menyelesaikan tantangan hingga akhir. Duh, kasian banget deh akyuu..

Akhirnya, saya menemukan pola yang cocok untuk saya.

Heem…semua hal di dunia ini membutuhkan proses. Bahkan tanaman pun berproses untuk tumbuh besar dan menjadi pohon hingga menghasilkan buah. So, saya ini naif sekali ketika berharap setelah ikut kelas online meningkatkan produktivitas diri langsung bisa produktif begitu saja tanpa menjalani prosesnya terlebih dahulu.

Jadi ingat, ada anak yang sedang belajar menghadapi ujian dan berharap nilainya bagus tapi cara belajarnya dengan membuat ramuan minuman dari kertas-kertas buku pelajarannya yang disobek-sobek, diaduk kemudian diminumnya sendiri. Berharap besok pagi, secara otomatis dia akan langsung tahu jawaban dari soal-soal ujiannya itu dengan benar.

Wkwkwkwk.. konyol!!

Nah, bukannya saya tadi juga berpikiran hampir sama dengan anak tadi? Hadeeeh…

Seorang bijak berkata, “Bagaimana caranya kamu menghabiskan seekor gajah?”

Tentu saja jawabannya ya dimakan. Tapi bagaimana caranya makan? Apakah langsung dicaplok begitu saja agar cepat habis? Mampukah kamu menghabiskannya dengan cara demikian?

Heem..mulai rada-rada filosofis ya..hehe..

Ya, jadi gitu, cara menghabiskan seekor gajah itu tadi tentu saja dengan cara memotongnya terlebih dahulu menjadi bagian-bagian kecil yang bisa kita makan, yang bisa masuk ke mulut kita. Berapa lama menghabiskannya? Tergantung kemampuanmu mencerna makanan itu hingga semua bagian dari gajah itu bisa masuk ke dalam tubuhmu. Bisa seminggu, sebulan atau beberapa bulan.

Begitu juga ketika kita ingin menjadi produktif.

Ada tahap-tahap yang perlu kita lalui dan kita bangun agar nantinya kita memiliki habit produktif yang terinstal secara otomatis. Tanpa harus berusaha keras menyuntikkan motivasi-motivasi dan inspirasi agar bisa bergerak produktif.

Motivasi itu perlu. Mencari inspirasi juga penting. Tapi dengan memiliki habit produktif, energi kita menjadi lebih efektif dan efisien untuk digunakan memikirkan hal lainnya lagi.

Produktif itu habit, bukan karakter dasar yang dibawa dari lahir. Kebiasaan-kebiasaan baik yang dibentuk menjadi pola hidup (habit) seseorang bisa menjadi karakter positif tertentu yang membuat orang tersebut mampu berkembang dan memiliki dampak dalam hidupnya.

Oke, balik ke bahasan tadi. Proses menjadi produktif itu kemudian saya adjust ke diri saya. Menjadi 7 tahapan sederhana [yang saya sebut disini sebagai 7 days challenge] yang mungkin sekali untuk bisa diduplikasi atau ditiru oleh siapa saja. Bisa banget di-customize sesuai kondisi dan situasi masing-masing.

Dibuat mudah saja ya kan, supaya kita pun enjoy menjalaninya.

Itu dia! Persoalan umum mental block yang terjadi ketika orang ingin benar-benar produktif adalah “berpikir pasti SULIT dahulu sebelum memulai”.

Makanya, salah seorang mentor saya memberi tips agar memasukkan kegiatan-kegiatan produktif itu dalam aktivitas sehari-hari. Misalnya, membaca buku sebelum tidur, menulis 3 kalimat setelah bangun tidur di pagi hari, berolahraga 10 menit setiap hari sebelum beberes rumah, atau minum segelas air putih setelah bangun tidur. Bangun tidur, pergi tidur, melakukan house keeping, dll, semua itu aktivitas harian yang tidak memerlukan usaha keras setiap kali melakukannya.

Oke, mungkin saya akan membuat bahasan artikelnya di kesempatan lain.

Nah, 7 Days Challenge ala-ala saya itu antara lain saya tulis di bawah ini. Dan masing-masing akan saya buat menjadi 7 artikel terpisah untuk menjelaskannya. Kalian bisa mengklik tautan dari tulisan ini ya.

Hehe…doakan saya agar bisa selesai menulisnya satu persatu… huuh hhaah..syemangaaat!

Day 1 : Take Your Time

Day 2 : Bangun Lebih Pagi – Miliki Morning Routine

Day 3 : Just 15 minutes!

Day 4 : 1 menit yang berharga

Day 5 : Zero Inbox and Blocking Time

Day 6 : Tabungan Syukur

Day 7 : Enjoy Your Time!

Heem..seru gak kira-kira? Hehe.. buat yang tertarik ikutan challenge juga, selamat! Nikmatilah proses yang teman-teman alami ya.

Just be yourself and enjoy.

Compete With My Self

[ikedianpuspita.com] Istilah Compete with my self ini tak sengaja saya temukan saat melakukan blogwalking. Thanks to ewafebri.com for inspiring me. Yes, mbak eva memang menginspirasi saya dengan motto hidupnya “compete with my self, encourage other”.

Melihat ke diri sendiri, ternyata selama ini saya masih [bahkan sering] sibuk membandingkan diri dengan orang lain, dengan prestasi-prestasi yang dicapai orang lain, dan sayangnya kebanyakan saya menemukan kalau diri ini selalu merasa rendah diri dengan itu semua.

Orang bijak mengatakan bahwa jangan pernah membandingkan diri kita dengan orang lain. Dan ya itu benar juga sih, tapi entah kenapa saya tetap merasa kesulitan mengatasi rasa kecewa dan iri ketika melihat orang lain lebih baik dari saya. Memang tidak selalu sih. Hanya untuk hal-hal yang saya rasa sangat menyentuh personalitas saya. Heeem..agak susah jelasinnya ya hehe..

Ya, pokoknya gitu deh.. saya belum menemukan alasan yang tepat untuk menjawab kenapa saya harus merasa iri pada keberhasilan dan kesuksesan orang lain (apakah emak-emak sering gitu yah?). Apa karena posisiku yang hanya ibu rumah tangga saja? Tidak punya profesi tertentu yang dikerjakan?

Terus terang mom shaming* yang terjadi di wilayah motherhood itu sangat mempengaruhi cara seorang perempuan memandang dirinya, terutama mengenai perannya sebagai seorang ibu.

*[mom shaming : perilaku mempermalukan ibu lainnya, seakan diri sendiri lebih baik, lebih hebat dan paling sempurna  dari ibu lainnya]

*[motherhood : pengalaman yang berkaitan dengan keibuan]

Well, setelah bertemu dengan blognya mbak eva, saya berubah pikiran. Saya menyadari satu hal. Kompetisi yang paling sulit kita lakukan adalah ketika harus berkompetisi dengan diri sendiri. Hei, itu ide yang bagus bukan? Teriak diri saya dalam hati. Ya, masuk akal banget kan ya? Coba kita bayangin, dalam hal apa saja kita pernah berhasil berkompetisi dengan diri sendiri? Tentunya untuk menjadi lebih baik, ya kan.

Pertanyaan-pertanyaan seperti apakah saya lebih memilih untuk menyelesaikan pekerjaan tepat waktu daripada menonton drama korea favorit? Itu pertanyaan yang cukup berat buat saya, hahahaa.. Terus pertanyaan-pertanyaan yang lain seperti, Apakah saya memilih melakukan aktivitas yang mendukung saya lebih produktif dibanding berlindung pada alasan-alasan untuk menghindari itu? Berlindung pada alasan mengasihani diri sendiri, pada keterbatasan yang ada, berpikir tidak mampu sebelum mencoba, cepat menghakimi diri secara negatif. Dan mungkin akan semakin panjang kalo kita mau membuat listnya.

Heeem…tantangan yang cukup pelik ya kan? hehe.. saya tidak selalu berhasil mengatasi semuanya sih. Di tengah jalan pasti ada momen-momen selalu balik lagi dan mandek. Yaaah tapi tetap aja berusaha dinikmati deh..hihihi.. Dibawa se-low aja,ye kaaan.

Tidak perlu menguras energi untuk berpikir menjadi lebih baik dari orang lain. Cukup berpikirlah menjadi lebih baik dari diri sendiri saat ini. Itu reminder buat saya.

Berusaha lebih keras dan berlomba menjadi lebih baik dengan diri sendiri. Menurut saya itu lebih baik. Dan jika kita berhasil menjadi lebih baik, maka orang lain pun pasti tidak akan menyangkal bahwa kita adalah versi diri kita yang terbaik. [yuk yak yuk…semangat berusaha!]

Yes, saya suka dengan ide ini. Bagaimana dengan kamu..? suka juga gak? Beritahu saya di kolom komentar ya. And happy day always, guys!

Merdeka Ala Ibu Rumah Tangga

[Ikedianpuspita.com] Mumpung masih di suasana bulan Agustus, topik kemerdekaan tentu adalah topik trending yang paling banyak dibahas orang. Heeem…mungkin boleh dibilang saya telat kalo mau ngebahas soal tema merdeka di penghujung bulan Agustus. Sudah telat. Bu! Hahahaa..

Tapi gak papa ya (hehe..ngomong sama diri sendiri), toh bulan Agustus belum berlalu. Jika berlalu pun, tema merdeka ini tema yang evergreen, alias tema yang bisa dibahas kapan saja especially saat peringatan independent  day.

Sekian tahun berlalu, perayaan kemerdekaan tetap indentik dengan lomba-lomba perayaan tujuhbelasan. Hanya tahun ini yang benar-benar terasa beda karena harus tetap di rumah dan menjaga jarak akibat pandemik yang masih berlangsung.

Di RT saya mah lomba tujuhbelasan sudah ditiadakan. Demi keamanan dan kenyamanan bersama serta stabilitas nasional agar tetap terjaga. Beeuh..hehe.

Ya gitu deh. Semua dilalui dengan rangkaian acara virtual melalui media massa dan media sosial.

Oke, saya gak mau bahas gimana suasana tujuhbelasan di tempat saya. Ya, pasti gak akan jauh beda dengan daerah lain kan ya, terutama di masa pandemik ini.

Saya cuma mau nulis beberapa poin pengalaman selama bulan-bulan sebelum bulan kemerdekaan ini.

Menjadi Ibu Rumah Tangga yang Merdeka

Disini maksud saya adalah kondisi dimana, saya sebagai ibu rumah tangga bisa merdeka dari belenggu. Belenggu dari management waktu yang berantakan, karena menyelesaikan pekerjaan rumah harian itu ternyata dan emang iya cukup menguras energi. Belum lagi kewajiban harus mengasuh anak dan mengurus belanjaan.

Sepertinya sepele sih ya, hehe. Tapi tahu enggak kenapa pekerjaan rumah dan mengasuh anak itu begitu menguras energi? Setelah saya renung-renungkan, di setiap pekerjaan rumah dan mengasuh anak itu bukan soal sekedar menyelesaikan pekerjaan, tapi juga bagaimana kita meletakkan cinta disana. Berdialog dan memberikan diri kita seutuhnya saat mengasuh anak-anak.

Kita enggak bisa setengah-setengah perhatiannya ketika anak ngajak ngobrol atau minta ini minta itu. Bisa-bisa salah persepsi dan hanya menimbulkan luka batin di masing-masing pihak.

Itu butuh energi, sayangku. Energi positif yang mampu membuat kita menjadi matahari bagi keluarga kita. Nah, padahal energi saya itu selalu naik turun gunung, muter-muter gak jelas kalau lagi capek. Bahkan kadang seharian bisa jadi ndelosor… (tiarap) hahahaa.. hadeeeh.

Yaaah, saya masih berlajar banyak dan berjuang untuk menyeimbangkan hal itu.

Merdeka Belajar, Belajar Merdeka

Semenjak menjadi ibu, saya harus siap menjadi manusia pembelajar terus menerus. Karena, tidak ada yang baku dalam parenting. Mengikuti perkembangan jaman dan perkembangan anak-anak, membuat saya perlu untuk terus mengupdate dan mengupgrade diri sendiri.

Kan saya sudah pernah ngerasain dulu jaman jadi anak-anak dan orang muda. Sudah ngerasain gimana jurang perbedaan antara generasi orangtua jaman dulu dengan generasi saya hahahaa..

Kalau saya gak siap untuk membuka diri dan pikiran belajar hal-hal baru, mungkin pola pengasuhan saya akan sama dengan pola pengasuhan orangtua jaman dulu ya, yang kata anak-anak jaman saya dibilang kolot. Bisa jadi saya juga akan jadi orangtua yang kolot.

Jadi, hayuk deh..saya mah oke-oke aja belajar hal-hal baru sepanjang itu memberikan manfaat positif. Demi siapa kalau bukan demi anak-anak, ya kan? Saya ingin menjadi sahabat mereka juga sampai mereka dewasa nanti.

Kesimpulan

Kemerdekaan selalu memunculkan ide-ide baru untuk terus mengembangkan diri. Karena merdeka berarti bebas dari belenggu. Belenggu yang selalu membatasi diri kita untuk berkembang.

Heeem..harapan saya ke depan sih tentunya semoga hari esok selalu menjadi lebih baik dari hari ini. Dan hari kemarin menjadi pelajaran yang berharga untuk kita hari ini.

Terima kasih sudah membaca tulisan saya hari ini ya. Yang mau komen, silakan tinggalkan jejak di kolom komentar. Semoga bisa menghibur kalian semua, syukur-syukur bisa bermanfaat juga.

Toxic Mother

by Ike Dian Puspita

Any negative behaviour that causes emotional damage or contaminates the way a person sees himself or herself, is toxic – Karen Young

Beberapa waktu lalu saya menemukan bahasan soal toxic parent di internet. Merasa tertarik, saya lalu searching mengenai topik ini. Dari frasa katanya, toxic parent, sudah bisa diduga bahwa ini pasti berkaitan dengan pola asuh orangtua yang memberi pengaruh buruk (‘beracun’) pada perkembangan anak. Tidak berbeda jauh dengan toxic parent, toxic mother kurang lebih juga demikian.

Saya tertarik membahas toxic mother ini karena tentu saja berkaitan dengan peran saya sebagai ibu ya kan.

Jadi, bagaimana toxic mother ini sesungguhnya?

***

https://id.theasianparent.com/toxic-parents/amp

Sebelum ke toxic mother, saya akan menyinggung sedikit soal toxic parent.

Perilaku pola asuh yang buruk biasanya akan meninggalkan pengalaman traumatik pada tumbuh kembang anak, terutama secara psikologis. Jangan-jangan kita pun sebenarnya juga memiliki traumatik tertentu mengenai hal ini. Seperti sering dibanding-bandingkan, sering dituntut hal-hal yang mungkin bukan kesukaan kita, kebisaan kita atau bahkan yang mungkin belum kita pahami. Jika dari salah satu indikator tersebut Anda menganggukkan kepala, bisa jadi itu salah satu tanda Anda pernah mendapatkan pengaruh toxic parenting saat tumbuh kembang Anda.

Saya tidak bermaksud ingin mengorek benar atau salah soal pola pengasuhan yang Anda alami atau yang sedang Anda jalani saat ini. Disadari atau tidak pola asuh yang kita terapkan pada anak-anak kita umumnya dipengaruhi oleh pola asuh yang pernah kita alami sebelumnya. Karena menjadi orangtua itu tidak ada sekolahnya, maka kita akan menggunakan sumber pengalaman dan memori kita sebagai anak dalam menerapkan pola asuh kita pada anak-anak.

Nah, orang-orang yang disebut sebagai toxic parent bisa dipastikan pernah mengalami siklus pola asuh yang tidak sehat ini atau memiliki pengalaman disfungsional dalam keluarga sebelumnya sehingga mereka memiliki potensi toxic parenting pada anak-anaknya.

Tahu enggak, kalau luka-luka batin yang terjadi di masa kecil yang tidak mendapatkan penanganan terapi pemulihan, akan mengendap di bawah sadar kita dan bisa muncul ketika dewasa saat pemicu-pemicunya mentrigger emosi kita.

Heeem… dari hasil pencarian saya soal toxic parenting, situasi toxic itu bukan hanya berupa kekerasan fisik maupun mental dalam keluarga. Namun, yang harus lebih diwaspadai adalah pembenaran atas nama cinta. Biasanya orangtua akan berdalih bahwa semua itu karena demi kebaikan anak-anak, atau karena terlalu sayang. Padahal bisa jadi, anak-anak merasa terluka tanpa mampu mengungkapkannya pada orangtua karena merasa sungkan, takut dan merasa bersalah jika marah pada orangtua mereka.

Perlakuan pola asuh yang “beracun” yang berlangsung terus menerus dan berulang, akan berdampak pada psikologis anak. Dia bisa jadi sangat penurut dengan menekan semua hal yang diingkannya. Atau mereka bisa jadi pembangkang dan memberontak terhadap orangtuanya.

Yang lebih miris lagi jika efeknya sampai mengubah anak-anak menjadi “monster yang menakutkan”, sama seperti orantua mereka saat mereka memperlakukan anak-anak mereka kelak.

***

Toxic Mother

https://id.theasianparent.com/toxic-parents/amp

Oke, sekarang soal toxic mother.

Ibu adalah orang yang paling dekat dengan anak-anak, orang pertama yang dikenal dan mengenalkan kasih sayang pada anak-anak. Bayangkan jika ibu menjadi sosok yang toxic (beracun) buat anak-anaknya. Bagaimana kira-kira nanti tumbuh kembang anak-anaknya?

Sayangnya literatur mengenai toxic mother yang saya temui masih banyak ditulis dalam bahasa Inggris. Tapi tak mengapa, karena situasi psikologis umumnya hampir sama.

Hubungan toxic mom ini biasanya sering terjadi antara ibu dan anak perempuannya. Namun tidak menutup kemungkinan juga terjadi pada relasi ibu dan anak laki-lakinya.

Apakah Anda sering …

  1. Mengeluarkan kritik terus menerus pada anak
  2. Mengontrol berlebihan
  3. Memanipulasi dan membuat anak merasa bersalah (Guilt tripping)
  4. Menghina anak dengan candaan dan sindiran
  5. Mengabaikan emosi anak
  6. Bersikap pasif agresif
  7. Kurang menghormati privasi anak
  8. Merasa bahwa pikiran dan perasaan Anda lebih penting dibandingkan apa yang dipikirkan dan dirasakan anak Anda

Ini baru sebagian kecil dari indikator sikap-sikap yang ditunjukkan oleh seorang toxic mom.

Seseorang bisa berubah menjadi toxic mother karena ada hal-hal yang memicunya berbuat seperti itu. Bisa jadi mereka pernah mengalami hubungan pola asuh beracun juga dengan orangtua mereka. Yang melumpuhkan kemampuan mereka dalam mengontrol dan mengendalikan setiap aspek dalam kehidupan mereka.

Orang-orang toxic ini merasa tidak nyaman dengan diri mereka sendiri dan selalu menempatkan kesalahan di luar diri mereka.

Dampak relasi toxic antara ibu dan anak-anaknya akan sangat terlihat pada anak-anak yang minder dan silent comment, karena mereka terbiasa mendapat tekanan atau selalu disalahkan (dipandang salah) oleh ibunya. Atau anak yang memiliki sifat berontak, dia akan mudah berubah menjadi seorang anak yang pemberontak dan melawan kata-kata ibunya.

Tentu hal ini bukanlah hal yang baik, bukan?

Oke, di awal tulisan ini saya mengutip sebuah kalimat, “Any negative behaviour that causes emotional damage or contaminates the way a person sees himself or herself, is toxic”. Artinya, sebuah perlakuan buruk apa pun yang menyebabkan kerusakan emosional atau mempengaruhi cara pandang seseorang mengenai diri mereka sendiri dengan buruk disebut sebagai perilaku yang beracun (toksik). Sementara toxic mother adalah ibu yang memperlakukan anak-anak mereka dengan cara tertentu yang membuat anak-anak merasa ragu bahwa mereka dianggap penting, dianggap berharga keberadaannya, bahwa mereka layak mendapatkan cinta yang tulus dari ibunya.

Jadi, ketika anak-anak berperilaku tidak baik atau beriperilaku tidak semestinya yang kita harapkan, tolong jangan buru-buru untuk menghakimi mereka dengan kemarahan. Bisa jadi, ada pengaruh pengasuhan dari kita yang kurang baik yang melukai perkembangan emosi dan mental mereka.

Anda bisa melihat kembali beberapa indikator yang sudah saya tuliskan sebelumnya. Toxic mother bisa terlihat dalam berbagai bentuk.

Ada yang terlihat secara jelas memperlakukan anaknya dengan buruk, seperti memarahi anaknya dengan berteriak, memarahi anaknya di depan orang lain, dan ada yang terlihat lebih halus. Seperti bersikap pasif agresif, merajuk atau ngambek jika anak-anaknya tidak mau memenuhi dan mematuhi apa yang diminta oleh sang ibu. Apapun itu, semuanya bisa berpotensi untuk melukai emosi psikologis anak.

Nah, gimana? Mulai terbukakah, ibu? Coba perhatikan, apakah ada diantara anak-anak kita yang mulai memperlihatkan tingkah laku tidak ceria di tengah teman-temannya? Atau perilaku yang merugikan teman-temannya?

Perhatikan bagaimana anak Anda bergaul dan bertingkah laku di lingkungannya. Mungkin ini bisa menjadi pintu masuk yang baik untuk mulai memperbaiki, merehabilitasi relasi yang ada diantara ibu dan anak, antara orangtua dan anak.

Tetap jaga semangat dan kesehatan Anda.

Salam

New Normal, New You

by Ike Dian Puspita

Setelah bulan Mei ini berakhir, kita akan mulai dengan “New Normal” life. Menerapkan hidup dengan perilaku baru agar kita tidak perlu lagi merasa takut dan terintimidasi dengan situasi pandemi yang berita-beritanya sering membuat cemas dan berkeringat.

Melawan adalah hal yang alami ketika makhluk hidup dihadapkan pada situasi yang membahayakan dirinya. Begitu pun otak manusia akan switch ke otak reptil secara ketika kita berada di situasi yang sama. Yakni menghindar atau melawan. Lalu setelahnya apakah kita akan terus melawan?

Mungkin saja iya, sampai sumber kekacauan itu menghilang. Namun,beberapa hal tidak bisa hilang begitu saja. Bisa jadi sumber penyakit malah selalu bermutasi sesuai dengan kondisi yang ada agar mereka (virus Covid 19) ini tetap survive. Bisa juga gitu kan? Setiap entitas di muka bumi ini dibekali kemampuan untuk mempertahankan diri.

Seorang guru saya menulis, ada penyakit yang tak bisa disembuhkan. Ada juga penyakit yang datang tanpa kita tahu pasti sebabnya. Ada juga penyakit yang bersarang walau bukan karena salah (gaya hidup) kita, dan Covid-19 termasuk geng yang ini.

Memilih opsi untuk melawan adalah pilihan yang tegas namun sekaligus membutuhkan energi yang banyak dan pengorbanan yang tidak sedikit pula.

Ada saatnya kita perlu mengambil langkah lain yang bisa memberikan win win solution. Karena persoalan sehat bukan hanya sehat fisik tapi juga perlu sehat secara mental. Untuk sehat secara mental, maka pikiran dan hati perlu dijauhkan dari hal-hal negatif. Maka kita perlu mengubah…

Moda Red Code to Yellow Code

Yellow code berarti melonggarkan batasan-batasan tertentu dengan tetap memperhatikan poin penting dan krusial untuk keselamatan.

Yellow code ini yang akan jadi kehidupan normal kita yang baru. Kita akan mulai berani beraktivitas di luar rumah meski tahu Covid-19 masih merajalela di luar sana. Dengan syarat kita juga menerapkan perilaku baru dengan benar. Bermasker dengan benar, mencuci tangan dengan benar, menjaga jarak dengan penuh kesadaran ketika berada di tempat umum.

Yellow code berarti menancapkan bendera putih sementara. Mengambil ruang untuk berjarak dengan ketegangan dan mengusahakan perdamaian.

Berdamai dan Menciptakan Keseimbangan Baru

Flu, demam berdarah, malaria, lupus adalah penyakit-penyakit yang sampai sekarang pun belum sepenuhnya hilang. Dan mungkin masih banyak penyakit lain yang juga tidak sepenuhnya bisa hilang. Demikian pun obat untuk Covid-19 masih membutuhkan perjalanan panjang agar bisa ditemukan dan digunakan oleh manusia.

Namun selama kita menunggu itu terwujud, apakah kita tidak bisa memiliki kehidupan yang normal lagi?

Pikirkan kembali…

Hidup kita masih bisa normal kembali kok. Hidup normal yang baru.

Harapan selalu ada di setiap kesesakan. Pelangi dan matahari masih akan muncul setelah badai besar melanda. Dengan keyakinan ini kita bisa mulai membangun semangat baru untuk hidup berdamai dengan Covid-19.

Berdamai bukan berarti kalah. Berdamai bukan berarti lemah. Berdamai berarti menciptakan keseimbangan yang baru. Bukankah mereka yang mampu berdamai akan merasakan kedamaian itu sendiri? Tidak cemas, khawatir apalagi waswas.

Di hati yang damai dan tenang akan terlihat titik harapan. Dalam situasi yang tenang, pikiran kita akan tertata, imunitas meningkat, solusi akan muncul, dan kita akan tahu kemana seharusnya kita mesti melangkah. Sampai akhirnya kita bisa menemukan kalau…

The New Normal is The New You

Berbicara mengenai yang ini, tentu lebih berkaitan dengan revolusi diri pribadi. Kemaren-kemaren, mau tidak mau, suka atau tidak suka kita “dipaksa”-terpaksa untuk melakukan WFH (work from home) atau SFH (study from home)

Sekarang..kita sudah mulai terbiasa dan terlatih untuk tetap bergerak dalam keterbatasan.

Kita menemukan bahwa hasrat dan karsa manusia tidak akan mati begitu saja ketika sumber daya di sekitar mereka dicabut. Semangat untuk bangkit dan berjuang menjadi semangat untuk bangkit dan berjuang bersama.

Jadi, saya pun akan mulai membuka lembar new normal life versi saya di awal Juni mendatang.

Anak-anak juga akan mulai menjalani new normal mereka sebagai homeschooler. Suami pun sudah mulai lebih banyak menggarap proyek-proyek kreatifnya. Sementara saya, terus memperbanyak aktivitas menulis, melakukan proyek natural living, dan merakit proyek home education bersama anak-anak.

Dan 80% kegiatan itu akan kami lakukan dari rumah. 20% nya beberapa pekerjaan masih harus kami lakukan di luar rumah. Seperti saya yang masih terlibat aktif sebagai panitia persiapan pemilu daerah, perlu menyiapkan strategi-strategi tersendiri agar kegiatan New normal keluarga maupun personal berjalan baik.

Strategi jelasnya seperti apa saya belum tahu hehe.. Setidaknya, sudah ada gambaran rencana besarnya. Prakteknya tentu akan menyesuaikan kondisi di lapangan.

Terdengar seru, bukan?

Saya berharap kalian juga sudah menemukan New Normal versi Anda sendiri.

Selamat atas New Normal Anda!

Merdeka Belajar, Belajar dengan Merdeka…

by Ike Dian Puspita

Situasi pandemi corona menjadi momen pijakan penting bagi kami sekeluarga untuk memulai hidup dan belajar dengan merdeka. Belajar bukan lagi sekedar dilihat sebagai usaha untuk memasukkan pengetahuan tapi kegiatan yang harus bisa mengeluarkan potensi dari individu-individu pembelajar.

Proses yang selama ini mungkin tidak pernah saya lakukan dan alami. Karena selama 17 tahun saya mengenyam pendidikan formal, proses yang saya jalani adalah mengkonsumsi pengetahuan yang diberikan, bukan aktif memproduksi dan memproses pengetahuan.

Dampak yang saya rasakan sampai sekarang adalah terperangkapnya diri saya, terutama mindset, pada situasi yang menempatkan diri saya sebagai obyek penderita. Memposisikan diri saya sebagai pihak yang pasif menerima. Tanpa tahu dan sadar perlu ada ruang buat saya memproses apa yang sudah saya dapatkan. Sehingga bisa benar-benar tepat sasaran dan tepat guna bagi kehidupan saya.

Merasa salah jurusan ketika kuliah, merasa tidak berdaya di pelajaran tertentu dan merasa tertekan harus mendapatkan nilai yang tinggi merupakan perasaan-perasaan yang akrab selama 17 tahun sekolah. Seolah kendali ada di luar diri saya. Jika saya tidak bisa memenuhi standar parameter yang telah ditetapkan, maka saya akan merasa gagal dan “mati”.

Namun demikian, saya sangat bersyukur sekarang. Semua pengalaman itu bisa menjadi modal dasar saya dalam menemukan oase yang sesungguhnya. Walau panjang dan berliku jalannya.

Bersama anak-anak saya dan suami, saya bersuka cita meleburkan diri dalam semangat baru ini. Semangat untuk Merdeka Belajar dan Belajar dengan Merdeka… Perjalanan jatuh bangun yang membawa harapan bagi anak-anak saya, generasi yang akan mendiami dunia baru yang bukan dunia saya. Yang setidaknya membuat saya mampu menatap mereka dengan sedikit kebanggaan diri.

Semua saya simpan dan tuliskan di blog www.merdekabelajarike.wordpress.com

Semoga menjadi celah..

Semoga menjadi suluh..

Start My Mom Blog

by Ike Dian Puspita

dok.pribadi

“Mulai aja dulu!”

Slogan yang paling sering saya gunakan untuk memotivasi saya ketika hendak melakukan suatu hal yang baru. Ya, mulai aja dulu, nanti belajar sambil jalan, sambil praktek langsung.

Memulai sesuatu yang baru itu tantangannya adalah men-challenge diri sendiri untuk berani memulai. Betul enggak? Hehehe…

Seperti menulis blog. Blog masih jadi idola buat banyak orang. Setiap waktu bermunculan blogger-blogger newbie. Atau para blogger lama yang jarang up date tapi sekarang mulai aktif lagi. Kira-kira kamu masuk tim yang mana? Hahahaa..

Saya sih masuk tim yang kedua, hihi.. J

Saya sudah berkali-kali punya blog. Dari mulai jaman Multiply masih main sampe keluar masuk platform Blogger dan WordPress. Dan sekarang saya sedikit menyesal sudah menghapus blog-blog lama saya, yang menyimpan rekam jejak tahap per tahap kematangan hidup saya.

Ya sudah, sekarang harus cukup bahagia dengan dua blog wordpress yang saya bangun sekarang.

You know what? Membangun blog itu bikin nagih. Terbukti saya tetap enjoy bongkar bangun blog saya sejak mulai kuliah sampe beranak pinak.

Blog itu…

  • Bertumbuh

Blog itu layaknya kita yang sedang bertumbuh dan tersimpan dalam memori dunia maya. Blog bisa menyesuaikan tahap proses kehidupan personal kita. Kita yang menciptakan dunia blog yang kita inginkan. Apakah untuk tujuan proyek komersial atau proyek idealisme. Kita mentransfer sebagian memori kita pada laman virtual yang mungkin suatu hari bisa berguna bagi diri kita sendiri maupun orang lain.

  • Media terapi

Menulislah maka kamu akan menemukan solusi dalam hidupmu. Menulis blog seperti menemukan oase di dalam diri. Ia membantu kita meringankan memori software kita, yakni otak dan hati kita. Kalau hape kita penuh memorinya pasti bakalan sering nge-hang dan lemot kan, begitu juga dengan kita. Peristiwa hidup yang masuk dalam diri kita tidak selamanya bahagia. Seringkali duka dan emosi negative yang lain mendominasi atau mengambil alih sementara hidup kita.

Menulis di blog membantu kita keluar dari kesesakan hidup yang mendera.membantu merapikan kembali kotak-kotak penyimpanan di dalam diri kita hingga menjadi lebih tertata, jernih, dan waras.

  • Membangun “New Normal”

Lagi trending nih topik-topik tentang new normal life. Setelah pandemic, kita memasuki transisi budaya kehidupan yang baru dengan lebih cepat. Yang sebelumnya hanya bisa kita bayangkan untuk waktu yang entah kapan akan segera terwujud dalam kehidupan nyata. Seperti bekerja dari rumah, belajar dari rumah, respon terhadap kebiasaan hidup sehat yang lebih meningkat. Bahkan menggeser tatanan perekonomian dan informasi kita menjadi lebih terkoneksi dengan teknologi.

Blog bisa menjadi jembatan kita untuk memahami situasi yang berubah dengan cepat ini. Memberi ruang agar kita mampu meng-adjust diri kita untuk membangun new normal life milik kita sendiri.

Itu sih yang membuat saya masih bertahan dan tidak menyerah untuk ngeblog. Ngeblog itu seperti membuat perjalananmu sendiri. Yang bisa kamu penuhi dengan pilihan-pilihan menu favoritmu tanpa harus mengganggu atau terganggu dengan menu pilihan orang lain. Yang bisa membuat dirimu semakin kenal siapa dirimu yang sesungguhnya.

Makanya, saya tetap memulai blog saya meski tertatih…

I start my mom blog with all expansion of heart and soul…